A. Mengingat Islamisasi 1300-1750
MENUJU GUNUNG API
Dilihat dari atas, gugus kepulauan Nusantara, panggung bagi banyak hal Dan yang akan ditururkan selanjutnya dalam buku ini, membentang dari Teluk Benggala ke Samudra Pasifik. Begitu pula, Semenanjung Melayu sudah lama merupakan bagian tak terpisahkan dari Nusantara. Bandar-bandarnya. dan bandar-bandar daratan utama dari Teluk Thailand hingga Tlongkok Selaran, terhubung erar dengan berbagai negara yang terletak di pulau-pulau besar seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku Jebih jauh ke timur. Di utara pulau-pulau itu, sebagai bagian dari jaringan perdagangan yang sama, terdapat Pulau Jawa serta pulau-pulau Bali, Lombok dan Sumbawa.
Sejak awal Masehi para penguasa di kawasan barat Nusantara berbagi budaya istana para pedagang asing. Hal ini terjadi karena Asia Tenggara berada di persimpangan dua zona perdagangan kuno yang penting. Yang pertama meliputi Samudra Hindia, sedangkan yang lain menyusuri Laut Tiongkok Selatan. Bahkan, pengetahuan kita mengenai kerajaan-kerajaan Asia Tenggara paling awal berasal dari berbagai catatan berbahasa Tiongkok yang merekam kedatangan para urusan dengan nama-nama yang tampaknya merupakan nama muslim.
Dari arah lain, kita memiliki laporan-laporan berbahasa Arab mengenai berbagai rute pelayaran dari Teluk Persia ke pelabuhan-pelabuhan di Tiongkok Selatan dengan titik tumpu di Selat Malaka. Di sana, para kapten menunggu perubahan angin monsun untuk membawa mereka melanjutkan perjalanan atau kembali pulang, sementara perdagangan dalam kepulauan memasok bercorak India dan mendapat keuntungan dari kehadiran Suei rempah-rempah, getah, bulu burung langka, dan wewangian yang mahal ke kapal yang sudah dipenuhi muatan kain, keranik, dan barang pecah belah.
Walaupun ada beberapa petunjuk mengenai orang-orang Muslim awal yang singgah di kawasan ini, Islam sebagai sebuah agama negara terbentuk belakangan. Selama paruh kedua milenium pertama, pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Selar Malaka tampaknya membayar upeti pada Kerajaan Sriwijaya (atau kepada yang mengklaim sebagai pewarisnya). Para penguasa Sriwijaya yang berpusat di sekitar bandar-bandar di Sumatra Timur menyokong Buddhisme Mahayana dan meninggalkan warisan keagamaan hingga sejauh Biara Nalanda di Bihar, India. Mereka mengirimkan misi ke Tlongkok melalui hou dan kemudian Quanzhou, bandar besar di selatan yang didirikan di bawah pemerintahan Dinasti Tang (618-907).
Di sisi lain, laporan-laporan Arab, yang menyebut Quanzhou sebagai tujuan terakhir Zaytun, tampaknya sekadar menyadari keberadaan Sriwijava secara samar dan hanya menyebut seorang "Maharaja" besar yang mengklaim pulau-pulau di sebuah kawasan yang dinamakan "Zabaj", Ibu kotanya bisa dikenali berdasarkan sebuah bandar kosmopolitan dan "gunung api" yang selalu membara di dekatnya.
Hal ini sebagian merupakan akibat pengingatan terus-menerus akan Islamisasi vang kerap tak cocok dengan jejak-jejak fisik yang tersisa. Marco Polo dalam laporannya mengenai Sumatra (sekitar 1292) ewruad yo didirikan oleh Surk para pedagang menyebut sebuah komunitas Muslim baru "Moor" di Perlak. Salah satu batu nisan muslim bertarikh pertama (yang berpadanan dengan tahun Gregorian 1297) menyebut "Malik al-Salih" sebagai penguasa sezaman di bandar terdekat, Samudra Pasai. Namun, ada bukti mengenai komunitas-komunitas yang lebih awal jauh ke barat di Lamreh, tempat penanda-penanda makam yang telah terkikis parah menunjukkan adanya hubungan dengan India Selatan dan Tiongkok Selatan.
Kita tak banyak tahu tentang mekanisme yang mendasari permukinan mereka, apakah mereka adalah perantara yang bekerja untuk perdagangan Tiongkok ataukah untuk raja-raja Chola di India Selatan. Pada awal abd ketiga belas para pedagang rempah Aden, di Yaman, akhirnya menyadari keberadaan orang-orang Muslim yang menghuni sebuah tempat yang sekarang mereka sebut "Jawa". Pada abad keempat belas, para penguasa Samudra Pasai bersaing, atau sebaliknya bersekongkol, dengan para penguasa Benggala memperebutkan hak agar nama mereka disebut dalam khotbah- khotbah Jumat di Calicut, tempat orang-orang Jawi (demikian bangsa-bangsa Asia Tenggara dikenal oleh para penutur bahasa Arab) kerap berjumpa dengan sesama muslim berkebangsaan India, Persia, dan Arab.
Petunjuk mengenai Jawa Islam muncul dalam berbagai tulisan scorang mistikus kelahiran Aden, Abdallah b. As'ad al-Yafi'i (1298-1367), yang mengabdikan hidupnya untuk mencatat pelbagai keajaiban 'Abd al-Qadir al-Jilani (1077-1166), sang wali dari Bagdad yang dianggap olch banyak persaudaraan mistis sebagai guru tertinggi. Dikenal sebagai tarekat, pada masa al-Yafi'i persaudaraan-persaudaraan ini telah tumbuh menjadi berbagai kelompok di bawah kepemimpinan para guru, atau syekh, yang diinisiasi secara khusus, yang mengklaim posisi berurutan dalam sebuah mata rantai silsilah para guru yang terentang tanpa putus hingga Nabi.
Apa pun garis keturunan spiritual mereka, entah Qadiriyyah, yang kembali ke 'Abd al-Qadir al-Jilani, atau Naqsyabandiyyah dari Baha' al-Din Naqsyaband (1318-89), tarekat memberikan pengajaran teknik-teknik untuk mengenal Tuhan-entah melalui perenungan, tarian yang spektakuler, atau penyangkalan diri-yang lazim disebut "mengingat" (dzikr). Barangkali salah satu dari bentuk dzikr paling terkenal adalah ritual "Dabus" disukai Surk oleh tarekat Rifa'iyyah, yang mengambil nama Ahmad al-Rifa'i dari Irak (w. 1182), yaitu para jemaah menusuk-nusukkan jarum ke dada mereka tanpa mengalami luka. Tarekat-tarekat yang lain, seperti berbagai cabang Naqsyabandiyyah, dikenal dengan perenungannya yang hening. Apa pun cara dzikr yang digunakan, diyakini bahwa aktivitas semacam itu, jika dibimbing oleh scorang guru yang berpengetahuan, dapat menghasilkan visi ekstatik dan momen "penyingkapan" tabir misteri yang memisahkan hamba dari Tuhan disisihkan.
Menulis pada abad keempat belas, al-Yafi'i scorang pemuda di Aden dia mengenal dalam komunikasi mistis semacam itu, Lelaki ini bahkan membaiat al-Yanfi’i ke dalam persaudaraan Qadiriyyah. Lelaki ini dikenal sebagai Mas'ud al-Jawi; Mas'ud si orang Jawi." Di sini kita tampaknya memiliki bukti bagi teori A.H. Johns yang terkenal mengenai adanya hubungan antara perdagangan dan penyebaran Islam ke Nusantara di tangan para syckh tarekat. Meskipun karya al-Yafi'i memainkan peranan dalam penyebaran kisah-kisah 'Abd al-Qadir al-Jilani di Asia Tenggara, tidak ada ingatan lokal mengenai proses ini, jika memang terjadi di Sumatra dengan cara yang sama seperti di Aden. Sebaliknya, kita kerap mendapati kisah-kisah istana tentang bagaimana cahaya kenabian sampai ke kawasan ini.
Dalam beberapa kasus, scorang penguasa pada zaman leluhur bunon beriumpa Nabi dalam mimpi, meminta pengakuan scorang utusan dari Mekah atas perpindahan agamanya dalam mimpi itu, atau pernah dikunjungi oleh seorang guru asing yang mampu menyembuhkan penyakit tertentu. Barangkali contoh yang paling terkenal ditemukan dalam Hikayat Raja Pasai: Raja Merah Silu (yang kemudian menjadi Malik al-Salih yang dikenang dengan batu nisan bertarikh 1297) bermimpi bahwa Nabi meludahi mulutnya. Begitu trerbangun dia seketika bisa membaca Al-Quran. Kisah ini sangat mirip 'Abd al-Qadir yang berbahasa Persia digambarkan fasih berturur bahasa Arab dalam karya al-Yafi'i, Khulasat al-Mafakhir (Ringkasan Tindakan- Tìndakan yang Membanggakan).
Lebih jauh, Merah Silu dikisahkan menerima seorang syekh dari Mekah untuk mengesahkan perpindahan agamanya, sebuah kisah tampaknya menunjuk pada sebentuk hubungan tarekat. Walaupun begitu, penekanan pada pengesahan dari Mekah lebih mencerminkan perhatian istana terhadap genealogi kekuasaan dan kekaguman sejak lama terhadap kota tersebut sebagai kediaman abadi keluarga Nabi. Barangkali yang paling masyhur di antara banyak silsilah kerajaan Melayu adalah Sulalat al-Salatin (Silsilah Para Sultan) milik Kesultanan Malaka, yang memasukkan beberapa bagian dari Hikayat Raja Pasai dan mendahului garis keturunan Muhammad dengan menegaskan bahwa pendiri dinasti memiliki darah Alexander Agung. Bagaimanapun kondisi sebelum atau sesudahnya, Islamisasi kian mendekatkan kekuatan berbagai koneksi internasional yang menghubungkan amudra Hindia dan Laut Tiongkok, Meskipun mengklaim sebagai keturunan Alexander dan Pasai, para penguasa Malaka menganggap diri mereka sebagai kerajaan bawahan Ming sampai ditaklukkan oleh Portugis pada 1511. Tentu saja, ada banyak hal yang tetap misterius mengenai Malaka. Sementara itu. semula Suek Ibn Battuta (1304-77) yang kelahiran Tangiers mengklaim pada sekitar 1345 bahwa penguasa Samudra Pasai menganut mazhab Syah'i (sebuah aliran penafsiran Hukum Islam yang dihubungkan dengan Muhammad b. Idris al-Syafi'i (767-820]). Navigator yang lebih belakangan, Sulayman al-Mahri (bertugas 1500-an), malah meragukan keislaman orang-orang Malaka. Dia pasti punya alasan tertentu bagi keraguannya. Meskipun Undang-und Melaka mendudukkan "hukum Tuhan" sebagai yang lebih tinggi ketimbang terakhir." adat setempat, mereka kerap lebih menyukai yang terakhir.
Sulalat al-Salatin tidak banyak bicara tentang kekhasan hukum ataup teks-teks yang digunakan di kesultanan. Isinya hanya pertanyaan ke Pasai mengenai keabadian pahala dan hukuman Tuhan memuar beberapa permintaan khusus untuk menjelaskan sebuah naskah yang dibawa ke Malaka olch "Mawlana Abu Bakr". Pertanyaan tersebut tampaknya terkait dengan perdebatan yang sedang terjadi mengenai pandangan mistikus Andalusia Iba al-Arabi (1165-1240), yang menyatakan bahwa meski neraka itu kekal, akan ada akhir bagi penderitaan mereka yang disiksa di sana karena rahmat Tuhan melampaui murka-Nya. Sementara itu, naskah yang dibawa oleh Mawlana Abu Bakr, yang konon diajarkan secara langsung kepada Sultan Mansur Shah (berkuasa 1456-77), menyebutkan al-Durr al-Manzumn (Mutiara yang Teruntai), sebuah judul yang oleh cendekiawan G.W.J. Drewes (1899-1993) dihubungkan dengan Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (1058-1111).
Di isi lain, tidak ada sebuah naskah ataupun kesepakatan. Versi Jain Selelat al-Salatin yang diterbitkan oleh penulis Singapura ternama, Munsvi Abdullah ('Abdallah b. Abd al-Qadir, 1796–1854), menyatakan Durr a- Manzum sebagai karya "Mawlana Abu Ishaq" dari "negeri atas angin" dan menjelaskan kandungannya sebagai sebuah risalah mengenai Esensi (dzat) Tuhan dan berbagai Atribut-Nya (sifat), yang ditambahi satu bagian lain mengenai Tindakan-Tindakan-Nya (af al). Pernah disampaikan bahwa hal ini menunjukkan sebuah karya tentang mistisisme, meski lebih mirip sebuah buku pengantar mengenai akidah (yang tentu saja merupakan landasan bagi karya-karya mistis)." Apa pun rahasia yang terkandung di balik Durr al- Manzum, yang jelas Malaka, bersama bandar Pahang dan Patani di wilayah utara semenanjung, memainkan peranan dalam perubahan Kepulauan Maluku dan proses tersebut terkait dengan penarikan rempah-rempah untuk pasar global yang tengah berlangsung.
DARI TIONGKOK KE JAWA
Raja-raja Kepulauan Maluku tidak hanya berhubungan dengan muslim Melayu pada abad kelima belas. Perdagangan dengan Tiongkok tetap menjadi kunci bagi kesuksesan yang terus berlanjut di Asia Tenggara, seperti halnya perpindahan ke terakhir dari agama-agama dunia ini. Dengan demikian, bangsa agama Tiongkok dan muslim Jawa juga hadir di panggung, berlayar dari bandar- bandar: berhasil masuk ke jalur pelayaran Arab. Kemunculan Patani sebagai sebuah kota muslim juga adalah jasa dari kontak Tiongkok-Jawa. Hal ini dikenang melalui nama pelabuhannya, yang juga dikenal sebagai Gresik. Naturalis Jerman Rumphius (1627-1702; lihat Bab 4) belakangan juga berkomentar bahwa baru saja mengalami perubahan seperti Tuban dan Gresik, yang orang Jawa di Ambon dikenal sebagai "orang-orang Tuban.
Bandar-bandar seperti Gresik dan Tuban muncul di pesisir utara Jawa a bawah pengaruh orang-orang kuat yang sekarang dikenang sebagai para eali, berasal dari kata bahasa Arab yang menyiratkan kedekatan kepada uhan. Tak diragukan lagi diskusi tentang sejarah Islam di Indonesia tak akan Bkap tanpa menyebut "Sembilan Wali" (Wali Sanga), yang dihubungkan dengan Islamisasi Jawa. Mereka meliputi Malik Ibrahim dan "Tuan" (Sunan) Bonang, Ampel, Drajat, dan Kalijaga. Yang disebut pertama, juga dikenal sebagai Mawlana Maghribi, merupakan orang Arab yang tiba sekitar dari Champa (Vietnam masa kinl) dan meninggal di Gresik pada 1419. Beberapa wali yang laln juga merupakan orang Arab. Barangkali yang paling terkenal adalah murid Mawlana Maghribi yang cakap, Sunan Kalijaga, va dianggap sebagai perwujudan arketipe muslim Indonesia, yang "lentur, tentatif, sinkretis, dan, yang paling penting, multisuara", berbeda dari tanal yang dijadikan nama gurunya, yang digambarkan Geertz sebagai "pemujaan wali dan kekakuan moral, kekuatan magis dan kesalehan yang agresif.
Kerap disebut sebagai contoh kelenturan Indonesia, sebagian dari W Sanga disebut telah menciptakan berbagai bentuk kesenian untuk menjelaskan Islam dalam idiom lokal, Sunan Kalijaga disebut telah menciptakan teater bayangan boneka (wayang); Sunan Drajat dianggap menggubah sebuah melodi untuk orkestra perkusi tradisional (gamelan), dan Sunan Bonang dinyatakan menciptakan bentuk pengajaran puitis yang dikenal sebagai suluk, sebuah berasal dari kata bahasa Arab yang berarti perjalanan' seseorang Suek dalam mencari pengetahuan Ilahiah." Selain itu, terdapat beberapa cerita Jawa mengenai Mawlana Maghribi dan para sahabatnya yang menunjukkan bahwa mereka mengandalkan jaringan perdagangan yang sama yang akan memperkaya Patani, tempat Mawlana Maghribi juga diklaim sebagai seorang wali pendiri. Sebuah laporan dari Cirebon, di perbatasan Jawa Barat, menunjukkan bahwa Laksamana Zheng He (1371-1433) dari Dinasti Ming- lah yang berjasa menyemai komunitas-komunitas Muslim Hanafi di pulau ini.
Di sisi lain, beberapa silsilah Arab yang lebih belakangan, seperti yang disusun olch Abd al-Rahman al-Masyhur dari Tarim (1834-1902), menyatakan bahwa seluruh Wali Sanga adalah keturunan Nabi (Ar. sayyid). Secara lebih khusus silsilah al-Masyhur menegaskan bahwa mereka, seperti sang ahli silsilah sendiri, berasal dari keluarga seorang lelaki bernama 'Alawi, yang kakeknya hijrah ke Hadramaut pada 951." Namun, bangsa Tiongkok tetap tidak terhapus dari sejarah Indonesia, seperti terliha dalam kisah Sunan Gunung Jati, scorang Melayu yang dilahirkan di Pasai dengan nama Nur Allah, bermazhab Surk yang pergi ke Mekah setelah Portugis menaklukkan kota kelahirannya pada 1521. Menurut berbagai legenda Indonesia, dia kembali ke Nusantara dan menikahi adik perempuan Sultan Trenggana dari Demak sekitar 1523 lalu pindah ke Banten sekitar 1527, dan akhirnya menetap di Cirebon. D sana dia menikahi seorang Tionghoa setempat yang warisannya ditunjuka secara mencolok dengan pola awan di pintu-pintu makamnya dan gaya ka batik khas yang terkenal di kota itu.
DARI HAMZAH AL-FANSURI KE SEBUAH MOMEN UTSMANI
Pemahaman mengenai ajaran-ajaran Wali Sanga di Jawa terbatas, demikian juga materi seputar bandar Semenanjung Malaka. Hanya ada beberapa rujukan tak penting filsafat Ibn al-'Arabi mengenai rahmat Tuhan atau unsut-- unsur hukum yang tampaknya kurang ditekankan dalam Sulalat al-Salatin. Penaklukan Malaka oleh Portugis pada 1511 mengakhiri keinginan apa p yang mungkin dimiliki Malaka untuk menjadi pusat pengetahuan Isa dan sebaliknya menciptakan sebuah peluang bagi bandar-bandar lain untuk menyalurkan perdagangan Tiongkok-Muslim yang lewat. Para penguasa wilayah yang nantinya akan menjadi Kesultanan Aceh termasuk di antara mereka yang mewarisi keuntungan itu. Mereka mulai memperluas wilayah ke Malaka dan barangkali bahkan kisah mengenai perpindahan agamanya" kekacauan. Setelah pengepungan yang gagal terhadap Malaka Portugis dengan mengorbankan Pasai, bandar yang pernah memasok para cendekiawan
Seperti Malaka dan Pasai, Majapahit yang nonmuslim juga mengalami kekacauan Majapahit digulingkan oleh pasukan dari Demak pada 1527. Beberapa waktu setelahnya Majapahit didirikan kembali sebagai Mataram Islam. Negara ini menGIpai puncaknya seabad kemudian di bawah Sultan Agung (berkuan 1613-46). Raja ini mengawali kekuasaannya de..gan menundukkan pantai urara dan memungkasi rangkaian kemenangannya dengan penjarahan Supbaya pada 1625. Istananya kemudian menjadi sponsor karya-karya vang menurut M.C. Ricklefs menampilkan bukti bagi sebuah "sintesis mistis" yang sudah jadi (bukannya baru mulai), memadukan Islam non-Jawa dengan sebuah bentuk domestik yang sebenarnya sudah ada sejak Wali Sanga menyelesaikan pekerjaan mereka.
Para sunan pesisir utara Jawa juga memiliki pengaruh di di Nusantara-tempat pusat-pusat perdagangan semakin mendekatkan berbagai kawasan Islam-termasuk bandar-bandar seperti Gowa (Makassar), kepangeranan pertama di Sulawesi yang diislamkan (awal abad ketujuh belas). Dengan dukungan para sunan di Giri, Gowa menjadi pengislam yang aktif baik terhadap para tetangganya maupun terhada pulau-pulau lain yang lebih jauh seperti Banda, Lombok, dan Sumbawa. Beberapa pihak menyatakan bahwa, pada pengujung abad keenam belas, para penguasa Sulawesi sudah mulai membangun otoritas mereka berdasarkan model "manusia sempurna (al-insan al-kamil) ala Sufi sembari melihat Mataram dan Aceh untuk mencari model praktis.
Tak diragukan lagi, terdapat bukti bahwa gagasan-gagasan Sufi merembesi berbagai tradisi lokal di Nusantara, mengingat mencoloknya popularitas Khidr sebagai acuan gagasan manusia sempurna. Belum lagi kemungkinan untuk sepenuhnya mengenal Tuhan dengan melewati "lima tingkatan wujud" yang dirumuskan 'Abd al-Karim al-Jili (1365-1428). Besar kemungkinan gagasan-gagasan semacam itu dikenal banyak masyarakat Indonesia melalui karya-karya seorang Melayu dari Sumatra Utara, bernama Hamzah al-Fansuri. Seperti Wali Sanga, dia dianggap menciptakan sebuah bentuk kesenian, yaitu berupa syair puitis Melayu (dari bahasa Arab syi r). Pengembaraan Hamzah membawanya jauh dari tanah airnya. Sebuah prasasti pemakaman yang ditafsirkan baru-baru ini menunjukkan bahwa hidupnya berakhir di Mekah pada 1527." Penanggalan baru ini telah secara radikal mengubah pemahaman kita mengenai sejarah sastra dan Sufisme Melayu tempat lain kafena Hamzah al-Fansuri biasanya ditempatkan di istana Aceh di bawafi Iskandar Muda (1607-36).
Apa pun kebenaran masalah ini, kebanyakan literatur menunjukkan bahwa puisi al-Fansuri diselimuti oleh gambaran-gambaran Sufi yang menggemakan dunia maritim bangsa Melayu. Dalam sebuah puisi, Tuhan ditampilkan sebagai samudra mahaluas yang harus diarungi dengan kapal Syari'ah dalam perjalanan menuju pulau-pulau surga..
Dengan meningkatnya penetrasi ekonomi negara-negara penerus Ingori dan Belanda di Nusantara secara lebih luas pada abad kesembilan belas, kita melihat sebuah pergeseran terakhir dalam kisah Jawi. Islam Indonesia, vang dalam beberapa kasus tertentu didukung ekonomi pribumi yang berkembang, menjauh dari ortodoksi yang diatur istana menuju hubungan yang lebih dekat dengan Mekah dan Timur Tengah melalui perantara para guru independen. Dalam beberapa contoh, baik berkat perang maupun perdamaian, para guru agama independen ini mampu berjaya, terutama di tempat-tempat yang paling terhubung dengan perdagangan global, dan mampu beradaptasi dengan berbagai mode baru organisasi Sufi yang menyaksikan adopsi tarekat-tarekat yang disukai di Imperium Utsmani. Pada akhir abad kaum Naqsyabandi khususnya menjajaki cara-cara baru untuk memperluas pengikut mereka. Di antara cara-cara ini, pengajaran-pengajaran singkat yang agak kontroversial dan penyebaran bahan-bahan cetakan yang semakin banyak tersedia bag kalangan pesantren. Tentu saja terdapat perlawanan terhadap terutama dari elite Arab dan kongsi ekonomi mereka yang terkait dengan tren ini, para penguasa Barat di Nusantara, yang pada akhirnya mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang mereka kuasai.
KEKUASAAN DALAM PENCARIAN PENGETAHUAN
Buku ini telah merpertanyakan hubungan yang sering dinyatakan antara Sufisme tarekat dan perpindahan agama ke dalam Islam di Asia Tenggara. Saya relah menyatakan bahwa tidak ada bukti pasti bahwa kemudian kerap muncul kembali) sebagai sebuah isu doktriner yang naik ke yang satu merupakan mesin bagi yang lain. Sebaliknya, Sufisme muncul (dan permukaan ketika ortodoksi negara perlu disesuaikan kembali agar selaras dengan standar-standar "Mekah". Pertanyaan semacam itu menciptakan sebuah peran dalam kisah perpindahan agama yang diterima bagi para tokob seperti Abd al-Ra'uf, Syekh Yusuf, dan murid-murid mereka serta memberikan ruang p
enjelajahan pribadi dalam sistem pesantren yang berkembang pesat bagi sebagian populasi. Begitu memasuki abad kesembilan belas, kita mulai memiliki gambaran Iebih iclas mengenai bentuk-bentuk aktivitas tarekat terpelajar tertenn sebelum status para penyokong mereka merosot-sebagaimana yang sangu sering terjadi-menjadi bawahan bangsa Eropa. Hal ini tidak menandai berakhirnya berbagai program reformasi dari masa sebelumnya. Sebaliknya, tampaknya beberapa penafsiran tertentu terhadap Sufisme, dan terutama yang bisa mengklaim hubungan dengan Mekah pascalepas dari cengkeraman Wahhabiyyah, menjadi penggerak utama perubahan keagamaan. Ini paling jelas terbukti di Jawa. Di sana, terdapat ketidakpastian yang mendalam mengenai sekolah-sekolah serta guru-guru mana yang harus menerima keuntungan kebijakan non-intervensi olch pewaris kekuasaan. negara kolonial yang menjadi.
Berbagai kontroversi dalam lingkaran-lingkaran terpelajar ataupe populer ini menjadi pasar bagi produk-produk percetakan muslim di Singapura, dan memunculkan beberapa pertanyaan yang menuntut kita untuk memberikan perhatian lebih saksama terhadap cara berbagai bangsa menjadi familier dengan literatur cetak. Dalam perjalanan proses ini, Islam semakin tertanam dalam apa yang disebut ruang publik muslim, dengan akibat bahwa pengawasan ortodoksi tarekat itu sendiri menjadi menjadi semakin tertanam dalam apa yang disebut ruang publik muslim,
Sebagian besar dari proses hubungan dengan Timur Tengah dan pelembagaan yang tengah berlangsung untuk meniru struktur pembelajarannya terjadi tanpa dikenali oleh orang-orang Eropa. Walaupun begitu, Belanda tidaklah sepenuhnya abai. Diktum yang kerap dirujuk bahwa mereka sebuah persoalan kolonial. hanya tertarik pada perdagangan-dan karena itu sangat berbeda dari p pendahulu mereka dari Iberia-bisa dikatakan menutup jalan bagi banyak sekali misi yang saling bersaing yang masuk ke usaha kolonial Belanda.
Meskipun bermula sebagai perusahaan transnasional pertama di dunia. tetapi, seperti akan kita lihat di paruh kedua buku ini, warisan Kristen Ered dalam membentuk berbagai gagasan mengenai peran memainkan agama dalam konteks kolonial. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, kita mengalihkan perhatian terhadap berbagai pandangan fundamental mengenai Islam pada era perusahaan-perusahaan dagang. Ini akan diikuti oleh pembahasan yang saling menyilang mengenai berbagai bingkai metropolitan yang digunakan di kelas-kelas kolonial pada abad kesembilan belas dan tulisan - tulisan misiologis berbasis lapangan yang terkait. Dengan melakukan hal ini, saya hendak menunjukkan bahwa kadang-kadang terdapat keterputusan yang signifikan antara apa yang diketahui di lapangan dan pengetahuan yang peranan disebarkan untuk khalayak Eropa.
BERBAGAI PANDANGAN FUNDAMENTAL MENGENAI ISLAM HINDIA 1600-1800
Kertarikan Belanda terhadap Hindia Timur paling bisa dipahami Kiebagai konsckuensi penaklukan Belanda oleh wangsa Habsburg, yang kepentingan dagangnya menghubungkan perairan biru langit Filipina dengan langir muram Negeri-Negeri Dataran Rendah. Setelah perang, Protestan merebur kemerdekaan. Perdagangan rempah-rempah Timur dipandang sebagai dukungan porensial bagi republik yang baru. Hal ini dibuat jelas oleh mantan juru rulis uskup Goa dari Portugis, Jan Huygen van Linschoten (1562-1611), Cort Verhael", 1601) kembali pada 1592 dengan berita mengenai sebuah rute ke Hindia D SuEi menjelaskannya dalam Itinerario-nya yang bergambar dari 1595-962 Seperti pesaingnya di seberang Selat, Belanda meluncurkan ekspedisi, ekspedisi ke kepulauan rempah yang disebut-sebut dalam dongeng. Ekspedisi ini dilaksanakan misi demi misi dan dibiayai oleh perorangan dari seluruh Belanda dan beberapa kepangeranan di sekitarnya, dengan kerja sama terang- negara. Tujuannya adalah mengalihkan hasil panen cengkeh, urduesan bunga pala, dan pala yang berharga tinggi dari Uni Iberia (1580–1640) yang mengucilkan para pedagang Belanda dari pesisir Portugis. Kembalinya ekspedisi 1959-97 yang sangat kelelahan di bawah pimpinan Cornelis de Houtman (1565-99) dipandang sebagai pertanda datangnya hal-hal baik, meski hanya membawa pulang sedikit muatan lada dari Banten setelah gagal mencapai Kepulauan Maluku. Ekspedisi ini menghasilkan sebuah buku mengesankan, Prima pars (Buku Pertama) atau Descriptionis itineris navalis in Indiam Orientalem (Gambaran Perjalanan Laut di Hindia Timur) karya Willem Lodewijckszoon, yang terbit pada 1598. buku ini dipenuhi penggambar:n rempah-rempah yang akurat beserta gambar-gambar yang telah disesuaikan mengenai penduduk yang bisa dijumpai dari Tionghoa berserban, belum lagi sang "Gubernur" Banten yang didamping antarpelabuhan-pelabuhan dagang. yang mengendalikan perdagangan Tànjung Harapan hingga Ball: orang-orang Arab, Persia, bahkan orang-otang Chief Ceque" yang dikirimkan dari Mekah lewat Jeddah.
Sampai di sana hanyalah separuh dari rempah-rempah Asia, kerap mendengarkan nasihat para "Uskup" dan mereka senduad tidak hendak menyerahkan ruang dalam pasar mereka, meski "Frank" (Feringgi) yang terakhir, dan agak berbeda, berusaha menyenangkan mereka dengan menunjukkan pas berbahasa Arab yang dicetak dengan sembrono. Para sultan Acch, yang telah mencoba menggunakan hubungan dengan Utsmani untuk melawan orang-orang Portugis di Malaka, sangat bermusuhan terhadap pendirian lebih banyak lagi tempat-tempat perdagangan Eropa, sebagaimana sikap orang-orang Portugis sendiri.
Kita bisa memercayai laporan nakhoda Inggris John Davis tentang Cornelis de Houtman yang kembali ke kawasan ini pada 1599 menumpangi salah satu dari lusinan kapal yang meninggalkan Holland dan Zeeland nada masa ekspedisi 1598-1600 yang dilakukan oleh Jacob van Neck. Ketidakbijaksanaannya membuat dia terbunuh di istana Ri'ayat Syah al- Mukammal dari Aceh (berkuasa 1589–1604).' Adik Cornelis, Frederick (1571-1627), yang juga turut dalam pelayaran itu, menuturkan cerita berbeda. Frederick menyalahkan persekongkolan yang direncanakan antara syahbandar dan sultan. Frederick memiliki lebih banyak waktu untuk mencari tahu apa yang telah terjadi sembari menjalin sejenis Surso-Sucio dengan versi yang hubungan dengan orang-orang Aceh. Karena dipenjara selama hampir dua tahun, dia terpaksa mengakrabkan dirinya dengan bahasa Melayu. Belakangan keahliannya itu dia gunakan untuk menyusun sebuah kamus dasar, yang diterbitkan pada 1603, yang menyertakan kata-kata bahasa Arab dan Turki yang berguna untuk berdagang di Samudra Hindia.
Karyanya bukanlah daftar pertama semacam itu yang terbit dalam bahasa Belanda. Dua tahun sebelumnya, laporan resmi ekspedisi telah terbit, dengan datar kata-kata Melayu dan Jawa yang digunakan di Kepulauan Maluku, tempat para pedagang itu berhasil bernegosiasi dengan para penguasa Ternate dan menikmati hubungan bersahabat dengan seorang makelar rempah- empah dari Turki di Banda, Laporan van Neck juga memuat gambar-gambar istana, tanaman, dan masjid kawasan ini yang lebih sederhana dan lebih realistis dibandingkan gambar-gambar dalam Prima pars Lodewijckszoon. Selain itu, terdapat dua gambaran singkat mengenai praktik Islam. Salah satunya gambaran iring-iringan ke masjid Kerajaan Ternate untuk Perayaan Kurban yang menghiasi sampul buku tersebut (lihat Gambar 5), dan yang lain gambaran shalat harian di Banda. Sebagaimana dijelaskan:
Para penduduk pada umunya adalah orang- orang lafir, yang menganut keyakinan Mahometish yang sangat mereka taati. Mereka tidak akan daang varaaa Surk yry Sueuo-SurJo yrrpe nduumun eped ynpnpuad eI mereka sebur Afunguits dalam bahasa mereka. Ketika mereka selesal beruad reriakan. Suaranya begiru nyaring schingga kita bisa mendengarnya dari jari araupun pergi dari pasar tanpa berdoa terlebih dulu di Kuil mereka, dan berbasuh, mereka pergi ke Gereja mereka dan berdoa dengan seruan dan dua puluh ruah lebih dengan kara-kata yang biasanya mereka katakan dua atau tiga kali: Saferolla. Stofferulla, Ascehad an la, Ascehed an la, Yill la, Ascebad kata terakhir itu, mereka mengusapkan tangan ke muka, dengan itu meneka menunjukkan ketaatan yang besar. Selain itu, mereka mengucapkan doa-doa lain, yang dilakukan dengan lirih dan sebagian besarnya dengan bergutnam, yang lebih kurang dengan urutan: Mereka (pertama-tama] menggelar sebuah permadani kecil di lantai, lalu berdiri di atasnya sembari mengarahkan mun langit dua atau tiga kali. Mereka kemudian menjatuhkan diri dengan mantap pada lutur, menempatkan kepala melakukan hal ini bersama-sama, di rumah-rumah, di tempat umum perahu-perahu cadik, di jalan-jalan, dan di pantai.
Dilihat dari sudut pandang masa kini, wajar jika buku ini tidak berhasil memuaskan siapa pun yang ingin tahu tentang Islam atau bahasa-bahasa vann digunakan. Doa-doa yang dikutip agak kacau dan daftar kata secara alfabetis hanya berisi sedikit muatan yang secara spesifik bersifat keagamaan. Tuhan keliru diterjemahkan dalam bahasa "Melayu" dengan kata (Portugis) Dios, dan dalam bahasa "Jawa" dengan kata (Arab) Ala. Dialog-dialog singkat yang disajikan Frederick de Houtman dalam kamusnya, meski memberikan wawasan mengenai berbagai harapan perdagangan Belanda, tetapi tidak memuaskan dalam urusan memberikan perincian mengenai agama. Padahal, dia mengaku ditawari berpindah agama, baik melalui bujukan perkawinan maupun ancaman terhadap pribadinya." Di sisi lain, laporannya yang tak diterbitkan memuat data mengenai praktik dan keyakinan sosial, seperti bergadang untuk melihat bulan dan kedatangan Mahdi, meski semua itu tetap agak sulit dimengerti olech orang Belanda yang menyaksikan para kolega juniornya menyerah pada tawaran kebebasan dan menjadi murtad satu demi satu.
DARI SUFISME KE SALAFISME 1905-1911
Hingga Snouck Hurgronje meninggalkan Hindia Belanda pada 1906, di negeri ini tak ada sesuatu pun yang diketahui mengenai reformisme atau modernisme, gerakan-gerakan keagamaan yang lebih baru dalam Islam. Selama dinggal di Indonesia selama tujuh belas tahun, Snouck Hurgronje mengenal Islam sebagaimana agama tersebut disampaikan oleh nenek moyang. Tak satu pun dalam tulisan-tulisannya dari periode itu bisa ditemukan jejak mengenai fenomena keagamaan pada masa-masa yang lebih baru.
Demikian ditulis G.F. Pijper (1893–1988), salah seorang administrator kolonial Derakhir yang dididik oleh Snouck Hurgronje, dan seorang cendekiawan pang dikenal (seperti yang diharapkannya) karena minatnya terhadap reformisme darmpaknya terhadap Hindia. Namun, meski reformisme Salafi Muhammad hduh (1849–1905) dan Muhammad Rasyid Rida (1865-1935) dari Kairo- Aemikian gerakan ini dikenal karena diklaim oleh mereka meniru praktik "para Hahur saleh" (al-salaf al-salih) yang terbukti sahih-tetap memasuki masyarakat Hindia ketika 'Abd al-Ghaffar meninggalkan Batavia, kita menjadi tahu bahwa katila gerakan ini mencapai Nusantara nyatanya punya tujuan yang sama dangan gerakan yang sudah berlangsung di Asia Tenggara. Snouck bisa jadi tidak nerujuk modernisme Kairo dengan begitu banyak kata tapi, seperti yang : dunjukkan bab-bab berikut. Dia dan para pembantunya telah membuka pintu penafsiran modernis terhadap Islam. Untuk memahami sampai pada titik ini, a perlu melangkah mundur dalam waktu dan ruang untuk melihat perspektif g lbih luas mengenai negeri-negeri Jawi.
NAHMAD AL-FATANI DAN AHMAD KHATIB AL-MINANKABAWI MENGENAI TAREKAT
Pada awal abad kedua puluh, karya-karya tercetak sudah selama beberapa eluade menyediakan akses untuk menjangkau ajaran Islam. Sejauh itu tentu sudah jelas. Namun, publik muslim belum memiliki sarana untuk turut serta dalam perdebatan-perdebatan keagamaan. Ini akan terus khalayak yang terbiasa dengan seni cetak mengembangkan minat yang kuat pada surat kabar. Sampai saat itu, dan meski mereka sendiri memainkan peran dalam menciptakan publik pembaca, para Sufi dari tarekat-tarekat populer dikritik oleh para lawan elite mereka sebagai korban ketololan potensial bagi keamanan publik, dan orang-orang desa polos yang meniadi gila karena gairah.
Masih bisa dipertanyakan apakah kritik-kritik ini membuat khawatir para syckh Sufi yang tetap sibuk mengajarkan pengetahuan secara pribadi dan memberikan ijazah-ijazah yang sangat penting untuk transmisi lebih laniur pengetahuan tarekat dengan ujung pena mereka. Pengawasan ortodoksi Sufi adalah persoalan internal, dan para syekh di Mekah tetap merupakan penentu akhir, baik bagi para raja maupun orang-orang awam. Salah satų otoritas semacam itu adalah pencetak Mekah Ahmad al-Fatani (1856-1908), sama terkenalnya di daratan utama Asia Tenggara seperti halnya Nawawi Banten di kepulauan. Pada 1905 al-Fatani menerima permohonan dari Raja Muhammad IV di Kelantan, sebuah negara Melayu yang saat itu di bawah kendali Siam. Dalam suratnya, Raja Kelantan meminta pendapat mengenai apa yang diyakini sebagai praktik sebuah tarekat Sufi yang gurunya baru saja tiba di kawasan tersebut dan telah mengumpulkan beberapa murid di Kota Baharu.
Guru yang dimaksud adalah seorang Minangkabau Semenanjung bernama Muhammad Sa'id b. Jamal al-Din al-Linggi (alias Cik 'Id, 187- 1926). Cik 'Id adalah murid orang Mesir, Muhammad al-Dandarawi (1839–1911), juga murid orang Sunda Ibrahim al-Duwayhi (1813–74). dan mengikuti tradisi yang diciptakan oleh orang Maroko Ahmad b. Iars (1750-1837). Sebenarnya al-Duwayhi telah memantapkan dirinya di Mesr sebelum pindah ke Mekah pada 1855 untuk membangun pondoknya sendiri di Jabal Abi Qubays. Di sana dia menyedot perhatian para calon Sufi yang berdatangan dari seluruh penjuru, termasuk Melayu.
Ternyata, Ahmadiyyah, demikian tarekat ini dikenal, telah dikenalkan ke Kelantan pada 1870 oleh 'Abd al-Samad b. Muhammad Salih (alias Tuan Tabal, 1850-91), yang mewakili penafsiran sadar terhadap ajaran-ajaran Idrisi. Persoalannya agak berbeda dengan Cik 'Id, yang lebih menyukai penafsiran mabuk dan populis al-Dandarawi, meski telah belajar di Mekah di bawah bimbingan ulama yang tenang seperti Zayn al-Din Sumbawa, Nawawi Banten, Ahmad Khatib al-Minankabawi, dan Ahmad al-Fatani.
Daftar Pustaka
Michael Laffan, The Makings of Indonesian Islam, New Jersey: Princeton
University Press, 2011.
MENUJU GUNUNG API
Dilihat dari atas, gugus kepulauan Nusantara, panggung bagi banyak hal Dan yang akan ditururkan selanjutnya dalam buku ini, membentang dari Teluk Benggala ke Samudra Pasifik. Begitu pula, Semenanjung Melayu sudah lama merupakan bagian tak terpisahkan dari Nusantara. Bandar-bandarnya. dan bandar-bandar daratan utama dari Teluk Thailand hingga Tlongkok Selaran, terhubung erar dengan berbagai negara yang terletak di pulau-pulau besar seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku Jebih jauh ke timur. Di utara pulau-pulau itu, sebagai bagian dari jaringan perdagangan yang sama, terdapat Pulau Jawa serta pulau-pulau Bali, Lombok dan Sumbawa.
Sejak awal Masehi para penguasa di kawasan barat Nusantara berbagi budaya istana para pedagang asing. Hal ini terjadi karena Asia Tenggara berada di persimpangan dua zona perdagangan kuno yang penting. Yang pertama meliputi Samudra Hindia, sedangkan yang lain menyusuri Laut Tiongkok Selatan. Bahkan, pengetahuan kita mengenai kerajaan-kerajaan Asia Tenggara paling awal berasal dari berbagai catatan berbahasa Tiongkok yang merekam kedatangan para urusan dengan nama-nama yang tampaknya merupakan nama muslim.
Dari arah lain, kita memiliki laporan-laporan berbahasa Arab mengenai berbagai rute pelayaran dari Teluk Persia ke pelabuhan-pelabuhan di Tiongkok Selatan dengan titik tumpu di Selat Malaka. Di sana, para kapten menunggu perubahan angin monsun untuk membawa mereka melanjutkan perjalanan atau kembali pulang, sementara perdagangan dalam kepulauan memasok bercorak India dan mendapat keuntungan dari kehadiran Suei rempah-rempah, getah, bulu burung langka, dan wewangian yang mahal ke kapal yang sudah dipenuhi muatan kain, keranik, dan barang pecah belah.
Walaupun ada beberapa petunjuk mengenai orang-orang Muslim awal yang singgah di kawasan ini, Islam sebagai sebuah agama negara terbentuk belakangan. Selama paruh kedua milenium pertama, pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Selar Malaka tampaknya membayar upeti pada Kerajaan Sriwijaya (atau kepada yang mengklaim sebagai pewarisnya). Para penguasa Sriwijaya yang berpusat di sekitar bandar-bandar di Sumatra Timur menyokong Buddhisme Mahayana dan meninggalkan warisan keagamaan hingga sejauh Biara Nalanda di Bihar, India. Mereka mengirimkan misi ke Tlongkok melalui hou dan kemudian Quanzhou, bandar besar di selatan yang didirikan di bawah pemerintahan Dinasti Tang (618-907).
Di sisi lain, laporan-laporan Arab, yang menyebut Quanzhou sebagai tujuan terakhir Zaytun, tampaknya sekadar menyadari keberadaan Sriwijava secara samar dan hanya menyebut seorang "Maharaja" besar yang mengklaim pulau-pulau di sebuah kawasan yang dinamakan "Zabaj", Ibu kotanya bisa dikenali berdasarkan sebuah bandar kosmopolitan dan "gunung api" yang selalu membara di dekatnya.
Hal ini sebagian merupakan akibat pengingatan terus-menerus akan Islamisasi vang kerap tak cocok dengan jejak-jejak fisik yang tersisa. Marco Polo dalam laporannya mengenai Sumatra (sekitar 1292) ewruad yo didirikan oleh Surk para pedagang menyebut sebuah komunitas Muslim baru "Moor" di Perlak. Salah satu batu nisan muslim bertarikh pertama (yang berpadanan dengan tahun Gregorian 1297) menyebut "Malik al-Salih" sebagai penguasa sezaman di bandar terdekat, Samudra Pasai. Namun, ada bukti mengenai komunitas-komunitas yang lebih awal jauh ke barat di Lamreh, tempat penanda-penanda makam yang telah terkikis parah menunjukkan adanya hubungan dengan India Selatan dan Tiongkok Selatan.
Kita tak banyak tahu tentang mekanisme yang mendasari permukinan mereka, apakah mereka adalah perantara yang bekerja untuk perdagangan Tiongkok ataukah untuk raja-raja Chola di India Selatan. Pada awal abd ketiga belas para pedagang rempah Aden, di Yaman, akhirnya menyadari keberadaan orang-orang Muslim yang menghuni sebuah tempat yang sekarang mereka sebut "Jawa". Pada abad keempat belas, para penguasa Samudra Pasai bersaing, atau sebaliknya bersekongkol, dengan para penguasa Benggala memperebutkan hak agar nama mereka disebut dalam khotbah- khotbah Jumat di Calicut, tempat orang-orang Jawi (demikian bangsa-bangsa Asia Tenggara dikenal oleh para penutur bahasa Arab) kerap berjumpa dengan sesama muslim berkebangsaan India, Persia, dan Arab.
Petunjuk mengenai Jawa Islam muncul dalam berbagai tulisan scorang mistikus kelahiran Aden, Abdallah b. As'ad al-Yafi'i (1298-1367), yang mengabdikan hidupnya untuk mencatat pelbagai keajaiban 'Abd al-Qadir al-Jilani (1077-1166), sang wali dari Bagdad yang dianggap olch banyak persaudaraan mistis sebagai guru tertinggi. Dikenal sebagai tarekat, pada masa al-Yafi'i persaudaraan-persaudaraan ini telah tumbuh menjadi berbagai kelompok di bawah kepemimpinan para guru, atau syekh, yang diinisiasi secara khusus, yang mengklaim posisi berurutan dalam sebuah mata rantai silsilah para guru yang terentang tanpa putus hingga Nabi.
Apa pun garis keturunan spiritual mereka, entah Qadiriyyah, yang kembali ke 'Abd al-Qadir al-Jilani, atau Naqsyabandiyyah dari Baha' al-Din Naqsyaband (1318-89), tarekat memberikan pengajaran teknik-teknik untuk mengenal Tuhan-entah melalui perenungan, tarian yang spektakuler, atau penyangkalan diri-yang lazim disebut "mengingat" (dzikr). Barangkali salah satu dari bentuk dzikr paling terkenal adalah ritual "Dabus" disukai Surk oleh tarekat Rifa'iyyah, yang mengambil nama Ahmad al-Rifa'i dari Irak (w. 1182), yaitu para jemaah menusuk-nusukkan jarum ke dada mereka tanpa mengalami luka. Tarekat-tarekat yang lain, seperti berbagai cabang Naqsyabandiyyah, dikenal dengan perenungannya yang hening. Apa pun cara dzikr yang digunakan, diyakini bahwa aktivitas semacam itu, jika dibimbing oleh scorang guru yang berpengetahuan, dapat menghasilkan visi ekstatik dan momen "penyingkapan" tabir misteri yang memisahkan hamba dari Tuhan disisihkan.
Menulis pada abad keempat belas, al-Yafi'i scorang pemuda di Aden dia mengenal dalam komunikasi mistis semacam itu, Lelaki ini bahkan membaiat al-Yanfi’i ke dalam persaudaraan Qadiriyyah. Lelaki ini dikenal sebagai Mas'ud al-Jawi; Mas'ud si orang Jawi." Di sini kita tampaknya memiliki bukti bagi teori A.H. Johns yang terkenal mengenai adanya hubungan antara perdagangan dan penyebaran Islam ke Nusantara di tangan para syckh tarekat. Meskipun karya al-Yafi'i memainkan peranan dalam penyebaran kisah-kisah 'Abd al-Qadir al-Jilani di Asia Tenggara, tidak ada ingatan lokal mengenai proses ini, jika memang terjadi di Sumatra dengan cara yang sama seperti di Aden. Sebaliknya, kita kerap mendapati kisah-kisah istana tentang bagaimana cahaya kenabian sampai ke kawasan ini.
Dalam beberapa kasus, scorang penguasa pada zaman leluhur bunon beriumpa Nabi dalam mimpi, meminta pengakuan scorang utusan dari Mekah atas perpindahan agamanya dalam mimpi itu, atau pernah dikunjungi oleh seorang guru asing yang mampu menyembuhkan penyakit tertentu. Barangkali contoh yang paling terkenal ditemukan dalam Hikayat Raja Pasai: Raja Merah Silu (yang kemudian menjadi Malik al-Salih yang dikenang dengan batu nisan bertarikh 1297) bermimpi bahwa Nabi meludahi mulutnya. Begitu trerbangun dia seketika bisa membaca Al-Quran. Kisah ini sangat mirip 'Abd al-Qadir yang berbahasa Persia digambarkan fasih berturur bahasa Arab dalam karya al-Yafi'i, Khulasat al-Mafakhir (Ringkasan Tindakan- Tìndakan yang Membanggakan).
Lebih jauh, Merah Silu dikisahkan menerima seorang syekh dari Mekah untuk mengesahkan perpindahan agamanya, sebuah kisah tampaknya menunjuk pada sebentuk hubungan tarekat. Walaupun begitu, penekanan pada pengesahan dari Mekah lebih mencerminkan perhatian istana terhadap genealogi kekuasaan dan kekaguman sejak lama terhadap kota tersebut sebagai kediaman abadi keluarga Nabi. Barangkali yang paling masyhur di antara banyak silsilah kerajaan Melayu adalah Sulalat al-Salatin (Silsilah Para Sultan) milik Kesultanan Malaka, yang memasukkan beberapa bagian dari Hikayat Raja Pasai dan mendahului garis keturunan Muhammad dengan menegaskan bahwa pendiri dinasti memiliki darah Alexander Agung. Bagaimanapun kondisi sebelum atau sesudahnya, Islamisasi kian mendekatkan kekuatan berbagai koneksi internasional yang menghubungkan amudra Hindia dan Laut Tiongkok, Meskipun mengklaim sebagai keturunan Alexander dan Pasai, para penguasa Malaka menganggap diri mereka sebagai kerajaan bawahan Ming sampai ditaklukkan oleh Portugis pada 1511. Tentu saja, ada banyak hal yang tetap misterius mengenai Malaka. Sementara itu. semula Suek Ibn Battuta (1304-77) yang kelahiran Tangiers mengklaim pada sekitar 1345 bahwa penguasa Samudra Pasai menganut mazhab Syah'i (sebuah aliran penafsiran Hukum Islam yang dihubungkan dengan Muhammad b. Idris al-Syafi'i (767-820]). Navigator yang lebih belakangan, Sulayman al-Mahri (bertugas 1500-an), malah meragukan keislaman orang-orang Malaka. Dia pasti punya alasan tertentu bagi keraguannya. Meskipun Undang-und Melaka mendudukkan "hukum Tuhan" sebagai yang lebih tinggi ketimbang terakhir." adat setempat, mereka kerap lebih menyukai yang terakhir.
Sulalat al-Salatin tidak banyak bicara tentang kekhasan hukum ataup teks-teks yang digunakan di kesultanan. Isinya hanya pertanyaan ke Pasai mengenai keabadian pahala dan hukuman Tuhan memuar beberapa permintaan khusus untuk menjelaskan sebuah naskah yang dibawa ke Malaka olch "Mawlana Abu Bakr". Pertanyaan tersebut tampaknya terkait dengan perdebatan yang sedang terjadi mengenai pandangan mistikus Andalusia Iba al-Arabi (1165-1240), yang menyatakan bahwa meski neraka itu kekal, akan ada akhir bagi penderitaan mereka yang disiksa di sana karena rahmat Tuhan melampaui murka-Nya. Sementara itu, naskah yang dibawa oleh Mawlana Abu Bakr, yang konon diajarkan secara langsung kepada Sultan Mansur Shah (berkuasa 1456-77), menyebutkan al-Durr al-Manzumn (Mutiara yang Teruntai), sebuah judul yang oleh cendekiawan G.W.J. Drewes (1899-1993) dihubungkan dengan Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (1058-1111).
Di isi lain, tidak ada sebuah naskah ataupun kesepakatan. Versi Jain Selelat al-Salatin yang diterbitkan oleh penulis Singapura ternama, Munsvi Abdullah ('Abdallah b. Abd al-Qadir, 1796–1854), menyatakan Durr a- Manzum sebagai karya "Mawlana Abu Ishaq" dari "negeri atas angin" dan menjelaskan kandungannya sebagai sebuah risalah mengenai Esensi (dzat) Tuhan dan berbagai Atribut-Nya (sifat), yang ditambahi satu bagian lain mengenai Tindakan-Tindakan-Nya (af al). Pernah disampaikan bahwa hal ini menunjukkan sebuah karya tentang mistisisme, meski lebih mirip sebuah buku pengantar mengenai akidah (yang tentu saja merupakan landasan bagi karya-karya mistis)." Apa pun rahasia yang terkandung di balik Durr al- Manzum, yang jelas Malaka, bersama bandar Pahang dan Patani di wilayah utara semenanjung, memainkan peranan dalam perubahan Kepulauan Maluku dan proses tersebut terkait dengan penarikan rempah-rempah untuk pasar global yang tengah berlangsung.
DARI TIONGKOK KE JAWA
Raja-raja Kepulauan Maluku tidak hanya berhubungan dengan muslim Melayu pada abad kelima belas. Perdagangan dengan Tiongkok tetap menjadi kunci bagi kesuksesan yang terus berlanjut di Asia Tenggara, seperti halnya perpindahan ke terakhir dari agama-agama dunia ini. Dengan demikian, bangsa agama Tiongkok dan muslim Jawa juga hadir di panggung, berlayar dari bandar- bandar: berhasil masuk ke jalur pelayaran Arab. Kemunculan Patani sebagai sebuah kota muslim juga adalah jasa dari kontak Tiongkok-Jawa. Hal ini dikenang melalui nama pelabuhannya, yang juga dikenal sebagai Gresik. Naturalis Jerman Rumphius (1627-1702; lihat Bab 4) belakangan juga berkomentar bahwa baru saja mengalami perubahan seperti Tuban dan Gresik, yang orang Jawa di Ambon dikenal sebagai "orang-orang Tuban.
Bandar-bandar seperti Gresik dan Tuban muncul di pesisir utara Jawa a bawah pengaruh orang-orang kuat yang sekarang dikenang sebagai para eali, berasal dari kata bahasa Arab yang menyiratkan kedekatan kepada uhan. Tak diragukan lagi diskusi tentang sejarah Islam di Indonesia tak akan Bkap tanpa menyebut "Sembilan Wali" (Wali Sanga), yang dihubungkan dengan Islamisasi Jawa. Mereka meliputi Malik Ibrahim dan "Tuan" (Sunan) Bonang, Ampel, Drajat, dan Kalijaga. Yang disebut pertama, juga dikenal sebagai Mawlana Maghribi, merupakan orang Arab yang tiba sekitar dari Champa (Vietnam masa kinl) dan meninggal di Gresik pada 1419. Beberapa wali yang laln juga merupakan orang Arab. Barangkali yang paling terkenal adalah murid Mawlana Maghribi yang cakap, Sunan Kalijaga, va dianggap sebagai perwujudan arketipe muslim Indonesia, yang "lentur, tentatif, sinkretis, dan, yang paling penting, multisuara", berbeda dari tanal yang dijadikan nama gurunya, yang digambarkan Geertz sebagai "pemujaan wali dan kekakuan moral, kekuatan magis dan kesalehan yang agresif.
Kerap disebut sebagai contoh kelenturan Indonesia, sebagian dari W Sanga disebut telah menciptakan berbagai bentuk kesenian untuk menjelaskan Islam dalam idiom lokal, Sunan Kalijaga disebut telah menciptakan teater bayangan boneka (wayang); Sunan Drajat dianggap menggubah sebuah melodi untuk orkestra perkusi tradisional (gamelan), dan Sunan Bonang dinyatakan menciptakan bentuk pengajaran puitis yang dikenal sebagai suluk, sebuah berasal dari kata bahasa Arab yang berarti perjalanan' seseorang Suek dalam mencari pengetahuan Ilahiah." Selain itu, terdapat beberapa cerita Jawa mengenai Mawlana Maghribi dan para sahabatnya yang menunjukkan bahwa mereka mengandalkan jaringan perdagangan yang sama yang akan memperkaya Patani, tempat Mawlana Maghribi juga diklaim sebagai seorang wali pendiri. Sebuah laporan dari Cirebon, di perbatasan Jawa Barat, menunjukkan bahwa Laksamana Zheng He (1371-1433) dari Dinasti Ming- lah yang berjasa menyemai komunitas-komunitas Muslim Hanafi di pulau ini.
Di sisi lain, beberapa silsilah Arab yang lebih belakangan, seperti yang disusun olch Abd al-Rahman al-Masyhur dari Tarim (1834-1902), menyatakan bahwa seluruh Wali Sanga adalah keturunan Nabi (Ar. sayyid). Secara lebih khusus silsilah al-Masyhur menegaskan bahwa mereka, seperti sang ahli silsilah sendiri, berasal dari keluarga seorang lelaki bernama 'Alawi, yang kakeknya hijrah ke Hadramaut pada 951." Namun, bangsa Tiongkok tetap tidak terhapus dari sejarah Indonesia, seperti terliha dalam kisah Sunan Gunung Jati, scorang Melayu yang dilahirkan di Pasai dengan nama Nur Allah, bermazhab Surk yang pergi ke Mekah setelah Portugis menaklukkan kota kelahirannya pada 1521. Menurut berbagai legenda Indonesia, dia kembali ke Nusantara dan menikahi adik perempuan Sultan Trenggana dari Demak sekitar 1523 lalu pindah ke Banten sekitar 1527, dan akhirnya menetap di Cirebon. D sana dia menikahi seorang Tionghoa setempat yang warisannya ditunjuka secara mencolok dengan pola awan di pintu-pintu makamnya dan gaya ka batik khas yang terkenal di kota itu.
DARI HAMZAH AL-FANSURI KE SEBUAH MOMEN UTSMANI
Pemahaman mengenai ajaran-ajaran Wali Sanga di Jawa terbatas, demikian juga materi seputar bandar Semenanjung Malaka. Hanya ada beberapa rujukan tak penting filsafat Ibn al-'Arabi mengenai rahmat Tuhan atau unsut-- unsur hukum yang tampaknya kurang ditekankan dalam Sulalat al-Salatin. Penaklukan Malaka oleh Portugis pada 1511 mengakhiri keinginan apa p yang mungkin dimiliki Malaka untuk menjadi pusat pengetahuan Isa dan sebaliknya menciptakan sebuah peluang bagi bandar-bandar lain untuk menyalurkan perdagangan Tiongkok-Muslim yang lewat. Para penguasa wilayah yang nantinya akan menjadi Kesultanan Aceh termasuk di antara mereka yang mewarisi keuntungan itu. Mereka mulai memperluas wilayah ke Malaka dan barangkali bahkan kisah mengenai perpindahan agamanya" kekacauan. Setelah pengepungan yang gagal terhadap Malaka Portugis dengan mengorbankan Pasai, bandar yang pernah memasok para cendekiawan
Seperti Malaka dan Pasai, Majapahit yang nonmuslim juga mengalami kekacauan Majapahit digulingkan oleh pasukan dari Demak pada 1527. Beberapa waktu setelahnya Majapahit didirikan kembali sebagai Mataram Islam. Negara ini menGIpai puncaknya seabad kemudian di bawah Sultan Agung (berkuan 1613-46). Raja ini mengawali kekuasaannya de..gan menundukkan pantai urara dan memungkasi rangkaian kemenangannya dengan penjarahan Supbaya pada 1625. Istananya kemudian menjadi sponsor karya-karya vang menurut M.C. Ricklefs menampilkan bukti bagi sebuah "sintesis mistis" yang sudah jadi (bukannya baru mulai), memadukan Islam non-Jawa dengan sebuah bentuk domestik yang sebenarnya sudah ada sejak Wali Sanga menyelesaikan pekerjaan mereka.
Para sunan pesisir utara Jawa juga memiliki pengaruh di di Nusantara-tempat pusat-pusat perdagangan semakin mendekatkan berbagai kawasan Islam-termasuk bandar-bandar seperti Gowa (Makassar), kepangeranan pertama di Sulawesi yang diislamkan (awal abad ketujuh belas). Dengan dukungan para sunan di Giri, Gowa menjadi pengislam yang aktif baik terhadap para tetangganya maupun terhada pulau-pulau lain yang lebih jauh seperti Banda, Lombok, dan Sumbawa. Beberapa pihak menyatakan bahwa, pada pengujung abad keenam belas, para penguasa Sulawesi sudah mulai membangun otoritas mereka berdasarkan model "manusia sempurna (al-insan al-kamil) ala Sufi sembari melihat Mataram dan Aceh untuk mencari model praktis.
Tak diragukan lagi, terdapat bukti bahwa gagasan-gagasan Sufi merembesi berbagai tradisi lokal di Nusantara, mengingat mencoloknya popularitas Khidr sebagai acuan gagasan manusia sempurna. Belum lagi kemungkinan untuk sepenuhnya mengenal Tuhan dengan melewati "lima tingkatan wujud" yang dirumuskan 'Abd al-Karim al-Jili (1365-1428). Besar kemungkinan gagasan-gagasan semacam itu dikenal banyak masyarakat Indonesia melalui karya-karya seorang Melayu dari Sumatra Utara, bernama Hamzah al-Fansuri. Seperti Wali Sanga, dia dianggap menciptakan sebuah bentuk kesenian, yaitu berupa syair puitis Melayu (dari bahasa Arab syi r). Pengembaraan Hamzah membawanya jauh dari tanah airnya. Sebuah prasasti pemakaman yang ditafsirkan baru-baru ini menunjukkan bahwa hidupnya berakhir di Mekah pada 1527." Penanggalan baru ini telah secara radikal mengubah pemahaman kita mengenai sejarah sastra dan Sufisme Melayu tempat lain kafena Hamzah al-Fansuri biasanya ditempatkan di istana Aceh di bawafi Iskandar Muda (1607-36).
Apa pun kebenaran masalah ini, kebanyakan literatur menunjukkan bahwa puisi al-Fansuri diselimuti oleh gambaran-gambaran Sufi yang menggemakan dunia maritim bangsa Melayu. Dalam sebuah puisi, Tuhan ditampilkan sebagai samudra mahaluas yang harus diarungi dengan kapal Syari'ah dalam perjalanan menuju pulau-pulau surga..
Dengan meningkatnya penetrasi ekonomi negara-negara penerus Ingori dan Belanda di Nusantara secara lebih luas pada abad kesembilan belas, kita melihat sebuah pergeseran terakhir dalam kisah Jawi. Islam Indonesia, vang dalam beberapa kasus tertentu didukung ekonomi pribumi yang berkembang, menjauh dari ortodoksi yang diatur istana menuju hubungan yang lebih dekat dengan Mekah dan Timur Tengah melalui perantara para guru independen. Dalam beberapa contoh, baik berkat perang maupun perdamaian, para guru agama independen ini mampu berjaya, terutama di tempat-tempat yang paling terhubung dengan perdagangan global, dan mampu beradaptasi dengan berbagai mode baru organisasi Sufi yang menyaksikan adopsi tarekat-tarekat yang disukai di Imperium Utsmani. Pada akhir abad kaum Naqsyabandi khususnya menjajaki cara-cara baru untuk memperluas pengikut mereka. Di antara cara-cara ini, pengajaran-pengajaran singkat yang agak kontroversial dan penyebaran bahan-bahan cetakan yang semakin banyak tersedia bag kalangan pesantren. Tentu saja terdapat perlawanan terhadap terutama dari elite Arab dan kongsi ekonomi mereka yang terkait dengan tren ini, para penguasa Barat di Nusantara, yang pada akhirnya mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang mereka kuasai.
KEKUASAAN DALAM PENCARIAN PENGETAHUAN
Buku ini telah merpertanyakan hubungan yang sering dinyatakan antara Sufisme tarekat dan perpindahan agama ke dalam Islam di Asia Tenggara. Saya relah menyatakan bahwa tidak ada bukti pasti bahwa kemudian kerap muncul kembali) sebagai sebuah isu doktriner yang naik ke yang satu merupakan mesin bagi yang lain. Sebaliknya, Sufisme muncul (dan permukaan ketika ortodoksi negara perlu disesuaikan kembali agar selaras dengan standar-standar "Mekah". Pertanyaan semacam itu menciptakan sebuah peran dalam kisah perpindahan agama yang diterima bagi para tokob seperti Abd al-Ra'uf, Syekh Yusuf, dan murid-murid mereka serta memberikan ruang p
enjelajahan pribadi dalam sistem pesantren yang berkembang pesat bagi sebagian populasi. Begitu memasuki abad kesembilan belas, kita mulai memiliki gambaran Iebih iclas mengenai bentuk-bentuk aktivitas tarekat terpelajar tertenn sebelum status para penyokong mereka merosot-sebagaimana yang sangu sering terjadi-menjadi bawahan bangsa Eropa. Hal ini tidak menandai berakhirnya berbagai program reformasi dari masa sebelumnya. Sebaliknya, tampaknya beberapa penafsiran tertentu terhadap Sufisme, dan terutama yang bisa mengklaim hubungan dengan Mekah pascalepas dari cengkeraman Wahhabiyyah, menjadi penggerak utama perubahan keagamaan. Ini paling jelas terbukti di Jawa. Di sana, terdapat ketidakpastian yang mendalam mengenai sekolah-sekolah serta guru-guru mana yang harus menerima keuntungan kebijakan non-intervensi olch pewaris kekuasaan. negara kolonial yang menjadi.
Berbagai kontroversi dalam lingkaran-lingkaran terpelajar ataupe populer ini menjadi pasar bagi produk-produk percetakan muslim di Singapura, dan memunculkan beberapa pertanyaan yang menuntut kita untuk memberikan perhatian lebih saksama terhadap cara berbagai bangsa menjadi familier dengan literatur cetak. Dalam perjalanan proses ini, Islam semakin tertanam dalam apa yang disebut ruang publik muslim, dengan akibat bahwa pengawasan ortodoksi tarekat itu sendiri menjadi menjadi semakin tertanam dalam apa yang disebut ruang publik muslim,
Sebagian besar dari proses hubungan dengan Timur Tengah dan pelembagaan yang tengah berlangsung untuk meniru struktur pembelajarannya terjadi tanpa dikenali oleh orang-orang Eropa. Walaupun begitu, Belanda tidaklah sepenuhnya abai. Diktum yang kerap dirujuk bahwa mereka sebuah persoalan kolonial. hanya tertarik pada perdagangan-dan karena itu sangat berbeda dari p pendahulu mereka dari Iberia-bisa dikatakan menutup jalan bagi banyak sekali misi yang saling bersaing yang masuk ke usaha kolonial Belanda.
Meskipun bermula sebagai perusahaan transnasional pertama di dunia. tetapi, seperti akan kita lihat di paruh kedua buku ini, warisan Kristen Ered dalam membentuk berbagai gagasan mengenai peran memainkan agama dalam konteks kolonial. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, kita mengalihkan perhatian terhadap berbagai pandangan fundamental mengenai Islam pada era perusahaan-perusahaan dagang. Ini akan diikuti oleh pembahasan yang saling menyilang mengenai berbagai bingkai metropolitan yang digunakan di kelas-kelas kolonial pada abad kesembilan belas dan tulisan - tulisan misiologis berbasis lapangan yang terkait. Dengan melakukan hal ini, saya hendak menunjukkan bahwa kadang-kadang terdapat keterputusan yang signifikan antara apa yang diketahui di lapangan dan pengetahuan yang peranan disebarkan untuk khalayak Eropa.
BERBAGAI PANDANGAN FUNDAMENTAL MENGENAI ISLAM HINDIA 1600-1800
Kertarikan Belanda terhadap Hindia Timur paling bisa dipahami Kiebagai konsckuensi penaklukan Belanda oleh wangsa Habsburg, yang kepentingan dagangnya menghubungkan perairan biru langit Filipina dengan langir muram Negeri-Negeri Dataran Rendah. Setelah perang, Protestan merebur kemerdekaan. Perdagangan rempah-rempah Timur dipandang sebagai dukungan porensial bagi republik yang baru. Hal ini dibuat jelas oleh mantan juru rulis uskup Goa dari Portugis, Jan Huygen van Linschoten (1562-1611), Cort Verhael", 1601) kembali pada 1592 dengan berita mengenai sebuah rute ke Hindia D SuEi menjelaskannya dalam Itinerario-nya yang bergambar dari 1595-962 Seperti pesaingnya di seberang Selat, Belanda meluncurkan ekspedisi, ekspedisi ke kepulauan rempah yang disebut-sebut dalam dongeng. Ekspedisi ini dilaksanakan misi demi misi dan dibiayai oleh perorangan dari seluruh Belanda dan beberapa kepangeranan di sekitarnya, dengan kerja sama terang- negara. Tujuannya adalah mengalihkan hasil panen cengkeh, urduesan bunga pala, dan pala yang berharga tinggi dari Uni Iberia (1580–1640) yang mengucilkan para pedagang Belanda dari pesisir Portugis. Kembalinya ekspedisi 1959-97 yang sangat kelelahan di bawah pimpinan Cornelis de Houtman (1565-99) dipandang sebagai pertanda datangnya hal-hal baik, meski hanya membawa pulang sedikit muatan lada dari Banten setelah gagal mencapai Kepulauan Maluku. Ekspedisi ini menghasilkan sebuah buku mengesankan, Prima pars (Buku Pertama) atau Descriptionis itineris navalis in Indiam Orientalem (Gambaran Perjalanan Laut di Hindia Timur) karya Willem Lodewijckszoon, yang terbit pada 1598. buku ini dipenuhi penggambar:n rempah-rempah yang akurat beserta gambar-gambar yang telah disesuaikan mengenai penduduk yang bisa dijumpai dari Tionghoa berserban, belum lagi sang "Gubernur" Banten yang didamping antarpelabuhan-pelabuhan dagang. yang mengendalikan perdagangan Tànjung Harapan hingga Ball: orang-orang Arab, Persia, bahkan orang-otang Chief Ceque" yang dikirimkan dari Mekah lewat Jeddah.
Sampai di sana hanyalah separuh dari rempah-rempah Asia, kerap mendengarkan nasihat para "Uskup" dan mereka senduad tidak hendak menyerahkan ruang dalam pasar mereka, meski "Frank" (Feringgi) yang terakhir, dan agak berbeda, berusaha menyenangkan mereka dengan menunjukkan pas berbahasa Arab yang dicetak dengan sembrono. Para sultan Acch, yang telah mencoba menggunakan hubungan dengan Utsmani untuk melawan orang-orang Portugis di Malaka, sangat bermusuhan terhadap pendirian lebih banyak lagi tempat-tempat perdagangan Eropa, sebagaimana sikap orang-orang Portugis sendiri.
Kita bisa memercayai laporan nakhoda Inggris John Davis tentang Cornelis de Houtman yang kembali ke kawasan ini pada 1599 menumpangi salah satu dari lusinan kapal yang meninggalkan Holland dan Zeeland nada masa ekspedisi 1598-1600 yang dilakukan oleh Jacob van Neck. Ketidakbijaksanaannya membuat dia terbunuh di istana Ri'ayat Syah al- Mukammal dari Aceh (berkuasa 1589–1604).' Adik Cornelis, Frederick (1571-1627), yang juga turut dalam pelayaran itu, menuturkan cerita berbeda. Frederick menyalahkan persekongkolan yang direncanakan antara syahbandar dan sultan. Frederick memiliki lebih banyak waktu untuk mencari tahu apa yang telah terjadi sembari menjalin sejenis Surso-Sucio dengan versi yang hubungan dengan orang-orang Aceh. Karena dipenjara selama hampir dua tahun, dia terpaksa mengakrabkan dirinya dengan bahasa Melayu. Belakangan keahliannya itu dia gunakan untuk menyusun sebuah kamus dasar, yang diterbitkan pada 1603, yang menyertakan kata-kata bahasa Arab dan Turki yang berguna untuk berdagang di Samudra Hindia.
Karyanya bukanlah daftar pertama semacam itu yang terbit dalam bahasa Belanda. Dua tahun sebelumnya, laporan resmi ekspedisi telah terbit, dengan datar kata-kata Melayu dan Jawa yang digunakan di Kepulauan Maluku, tempat para pedagang itu berhasil bernegosiasi dengan para penguasa Ternate dan menikmati hubungan bersahabat dengan seorang makelar rempah- empah dari Turki di Banda, Laporan van Neck juga memuat gambar-gambar istana, tanaman, dan masjid kawasan ini yang lebih sederhana dan lebih realistis dibandingkan gambar-gambar dalam Prima pars Lodewijckszoon. Selain itu, terdapat dua gambaran singkat mengenai praktik Islam. Salah satunya gambaran iring-iringan ke masjid Kerajaan Ternate untuk Perayaan Kurban yang menghiasi sampul buku tersebut (lihat Gambar 5), dan yang lain gambaran shalat harian di Banda. Sebagaimana dijelaskan:
Para penduduk pada umunya adalah orang- orang lafir, yang menganut keyakinan Mahometish yang sangat mereka taati. Mereka tidak akan daang varaaa Surk yry Sueuo-SurJo yrrpe nduumun eped ynpnpuad eI mereka sebur Afunguits dalam bahasa mereka. Ketika mereka selesal beruad reriakan. Suaranya begiru nyaring schingga kita bisa mendengarnya dari jari araupun pergi dari pasar tanpa berdoa terlebih dulu di Kuil mereka, dan berbasuh, mereka pergi ke Gereja mereka dan berdoa dengan seruan dan dua puluh ruah lebih dengan kara-kata yang biasanya mereka katakan dua atau tiga kali: Saferolla. Stofferulla, Ascehad an la, Ascehed an la, Yill la, Ascebad kata terakhir itu, mereka mengusapkan tangan ke muka, dengan itu meneka menunjukkan ketaatan yang besar. Selain itu, mereka mengucapkan doa-doa lain, yang dilakukan dengan lirih dan sebagian besarnya dengan bergutnam, yang lebih kurang dengan urutan: Mereka (pertama-tama] menggelar sebuah permadani kecil di lantai, lalu berdiri di atasnya sembari mengarahkan mun langit dua atau tiga kali. Mereka kemudian menjatuhkan diri dengan mantap pada lutur, menempatkan kepala melakukan hal ini bersama-sama, di rumah-rumah, di tempat umum perahu-perahu cadik, di jalan-jalan, dan di pantai.
Dilihat dari sudut pandang masa kini, wajar jika buku ini tidak berhasil memuaskan siapa pun yang ingin tahu tentang Islam atau bahasa-bahasa vann digunakan. Doa-doa yang dikutip agak kacau dan daftar kata secara alfabetis hanya berisi sedikit muatan yang secara spesifik bersifat keagamaan. Tuhan keliru diterjemahkan dalam bahasa "Melayu" dengan kata (Portugis) Dios, dan dalam bahasa "Jawa" dengan kata (Arab) Ala. Dialog-dialog singkat yang disajikan Frederick de Houtman dalam kamusnya, meski memberikan wawasan mengenai berbagai harapan perdagangan Belanda, tetapi tidak memuaskan dalam urusan memberikan perincian mengenai agama. Padahal, dia mengaku ditawari berpindah agama, baik melalui bujukan perkawinan maupun ancaman terhadap pribadinya." Di sisi lain, laporannya yang tak diterbitkan memuat data mengenai praktik dan keyakinan sosial, seperti bergadang untuk melihat bulan dan kedatangan Mahdi, meski semua itu tetap agak sulit dimengerti olech orang Belanda yang menyaksikan para kolega juniornya menyerah pada tawaran kebebasan dan menjadi murtad satu demi satu.
DARI SUFISME KE SALAFISME 1905-1911
Hingga Snouck Hurgronje meninggalkan Hindia Belanda pada 1906, di negeri ini tak ada sesuatu pun yang diketahui mengenai reformisme atau modernisme, gerakan-gerakan keagamaan yang lebih baru dalam Islam. Selama dinggal di Indonesia selama tujuh belas tahun, Snouck Hurgronje mengenal Islam sebagaimana agama tersebut disampaikan oleh nenek moyang. Tak satu pun dalam tulisan-tulisannya dari periode itu bisa ditemukan jejak mengenai fenomena keagamaan pada masa-masa yang lebih baru.
Demikian ditulis G.F. Pijper (1893–1988), salah seorang administrator kolonial Derakhir yang dididik oleh Snouck Hurgronje, dan seorang cendekiawan pang dikenal (seperti yang diharapkannya) karena minatnya terhadap reformisme darmpaknya terhadap Hindia. Namun, meski reformisme Salafi Muhammad hduh (1849–1905) dan Muhammad Rasyid Rida (1865-1935) dari Kairo- Aemikian gerakan ini dikenal karena diklaim oleh mereka meniru praktik "para Hahur saleh" (al-salaf al-salih) yang terbukti sahih-tetap memasuki masyarakat Hindia ketika 'Abd al-Ghaffar meninggalkan Batavia, kita menjadi tahu bahwa katila gerakan ini mencapai Nusantara nyatanya punya tujuan yang sama dangan gerakan yang sudah berlangsung di Asia Tenggara. Snouck bisa jadi tidak nerujuk modernisme Kairo dengan begitu banyak kata tapi, seperti yang : dunjukkan bab-bab berikut. Dia dan para pembantunya telah membuka pintu penafsiran modernis terhadap Islam. Untuk memahami sampai pada titik ini, a perlu melangkah mundur dalam waktu dan ruang untuk melihat perspektif g lbih luas mengenai negeri-negeri Jawi.
NAHMAD AL-FATANI DAN AHMAD KHATIB AL-MINANKABAWI MENGENAI TAREKAT
Pada awal abad kedua puluh, karya-karya tercetak sudah selama beberapa eluade menyediakan akses untuk menjangkau ajaran Islam. Sejauh itu tentu sudah jelas. Namun, publik muslim belum memiliki sarana untuk turut serta dalam perdebatan-perdebatan keagamaan. Ini akan terus khalayak yang terbiasa dengan seni cetak mengembangkan minat yang kuat pada surat kabar. Sampai saat itu, dan meski mereka sendiri memainkan peran dalam menciptakan publik pembaca, para Sufi dari tarekat-tarekat populer dikritik oleh para lawan elite mereka sebagai korban ketololan potensial bagi keamanan publik, dan orang-orang desa polos yang meniadi gila karena gairah.
Masih bisa dipertanyakan apakah kritik-kritik ini membuat khawatir para syckh Sufi yang tetap sibuk mengajarkan pengetahuan secara pribadi dan memberikan ijazah-ijazah yang sangat penting untuk transmisi lebih laniur pengetahuan tarekat dengan ujung pena mereka. Pengawasan ortodoksi Sufi adalah persoalan internal, dan para syekh di Mekah tetap merupakan penentu akhir, baik bagi para raja maupun orang-orang awam. Salah satų otoritas semacam itu adalah pencetak Mekah Ahmad al-Fatani (1856-1908), sama terkenalnya di daratan utama Asia Tenggara seperti halnya Nawawi Banten di kepulauan. Pada 1905 al-Fatani menerima permohonan dari Raja Muhammad IV di Kelantan, sebuah negara Melayu yang saat itu di bawah kendali Siam. Dalam suratnya, Raja Kelantan meminta pendapat mengenai apa yang diyakini sebagai praktik sebuah tarekat Sufi yang gurunya baru saja tiba di kawasan tersebut dan telah mengumpulkan beberapa murid di Kota Baharu.
Guru yang dimaksud adalah seorang Minangkabau Semenanjung bernama Muhammad Sa'id b. Jamal al-Din al-Linggi (alias Cik 'Id, 187- 1926). Cik 'Id adalah murid orang Mesir, Muhammad al-Dandarawi (1839–1911), juga murid orang Sunda Ibrahim al-Duwayhi (1813–74). dan mengikuti tradisi yang diciptakan oleh orang Maroko Ahmad b. Iars (1750-1837). Sebenarnya al-Duwayhi telah memantapkan dirinya di Mesr sebelum pindah ke Mekah pada 1855 untuk membangun pondoknya sendiri di Jabal Abi Qubays. Di sana dia menyedot perhatian para calon Sufi yang berdatangan dari seluruh penjuru, termasuk Melayu.
Ternyata, Ahmadiyyah, demikian tarekat ini dikenal, telah dikenalkan ke Kelantan pada 1870 oleh 'Abd al-Samad b. Muhammad Salih (alias Tuan Tabal, 1850-91), yang mewakili penafsiran sadar terhadap ajaran-ajaran Idrisi. Persoalannya agak berbeda dengan Cik 'Id, yang lebih menyukai penafsiran mabuk dan populis al-Dandarawi, meski telah belajar di Mekah di bawah bimbingan ulama yang tenang seperti Zayn al-Din Sumbawa, Nawawi Banten, Ahmad Khatib al-Minankabawi, dan Ahmad al-Fatani.
Daftar Pustaka
Michael Laffan, The Makings of Indonesian Islam, New Jersey: Princeton
University Press, 2011.
No comments:
Post a Comment