BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelum Nasionalisme dan Agama terbentuk di Indonesia, masyarakat Indonesia mempunyai spirit agama tujuan cita-cita, darah, dan ras yang sama, terbentuknya suatu unsur-unsur embrio Nilai-nilai Nasionalisme pada masa walisongo. Pijakan Nasionalisme di sebut Negara karna negara adalah menjadi saran atau tempat dari keberadaan Nasionalisme(semangat), perwujudan Nasionalisme butuh tempat yaitu di Negara. Memotret Negara di era Walisongo. Negara di zaman wali songo adalah Negara Demak yang di sebut kesultanan Demak.
Islam di Indonesia pada masa walisongo dalam berdakwah banyak diminati oleh berbagai kalangan pribumi. Bisa memberikan terobosan dan pembaharuan Islam di jawa. Hal tersebut menjadikan walisongo sangat dihormati oleh masyarakat Jawa. pengetahuan tentang kebudayaan Islam masa peralihan di Jawa Timur kiranya cukup penting. Walisongo berarti sembilan orang wali. Sembilan orang wali yang dimaksud adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Meski mereka tidak hidup di zaman yang persis sama.
Salah satu contoh walisongo bernama Sunan Drajat, Moralitas yang dibangun oleh dinilai paling sukses diantara Walisanga yang lainnya, sebab Sunan Drajat sendiri tidak melulu menyiarkan Agama Islam namun juga mengutamakan pencapaian kesejahteraan sosial masyarakat.
Sebagaimana pendapat Muhammad Habib Mustopo, ada dua hal yang cukup penting tentang kebudayaan Islam masa peralihan di Jawa Timur. Pertama , untuk melacak proses penyiaran Islam di lingkungan masyarakat, di bandar-bandar dan dilingkungan keraton yang mayoritas beragama Hindu-Budha. Kedua, untuk mengetahui latar belakang sejarah pertumbuhan seni bangunan dan tradisi sastra tulis Islam yang masih memperlihatkan unsur-unsur budaya pra-Islam. Hasil budaya tersebut sebagai kreatifitas yang berakar dan pengalaman kolektif sejak mengalami interaksi dengan dan luar sekitar abad ke-4 M. Mustopo juga mengutip pendapat L.C. Damais, bahwa istilah masa peralihan dimaksudkan sebagai suatu periode transisi dari zaman Hindu ke zaman Islam atau masa peralihan agama secara resmi. .
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Sebagai pendapat Azra, ada empat hal disampaikan histiografi tradisional. Pertama , Islam di Nusantara dibawa langsung dari Tanah Arab. Kedua , Islam diperkenalkan oleh para guru atau juru dakwah profesional. Ketiga , orang-orang yang pertama kali masuk Islam adalah penguasa. Keempat , sebagaian besar para juru dakwah profesional datang di Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Melihat realitas yang ada, penulis ingin mengulas lebih mendalam terkait konstruksi Nasionalisme pada masa Walisongo.
1.2 Rumusan Masalah yang akan diajukan dalam makalah sebagai berikut:
1.2.1 Bagimana Prinsip dan tafsir agama yang cocok dengan agama pada masa walisongo terkait Islam dan Kebangsaan.
1.2.2 Bagimana Bukti Bukti wujud dari tafsir agama yang di lakukan walisongo yang cocok dengan Nilai Kebangsaan.
1.3 Tujuan yang akan diajukan dalam makalah sebagai berikut:
1.3.1 Untuk mengetahu Prinsip dan tafsir agama yang cocok dengan agama pada masa walisongo terkait Islam dan Kebangsaan.
1.3.2 Untuk Mengetahui Bukti Bukti wujud dari tafsir agama yang di lakukan walisongo yang cocok dengan Nilai Kebangsaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prinsip dan tafsir agama yang cocok dengan agama pada masa walisongo terkait Islam dan Kebangsaan.
2.1.1 Kesultana Demak
Memotret Negara di era Walisongo adalah Negara Demak yang di sebut kesultanan Demak.Pada Kesultanan Demak/Negara Demak abad 15, sistem yang ada pada ketatanegaraan Kesultanan Demak yang di bangun adalah agama sebagai pengikat disebut nasionalisme khilafah lintas negara. Perbedaan nasionalisme Demak berbeda dengan nasionalisme Timur Tengah. Ada 2 perbedaan. Pertama Demak sebagai kerajaan tidak menjadi bagian khalifah Timur Tengah hanya di zona teritorial yang ada di Nusantata, menjadikan wujud baru, tidak mengikuti kekhalifahan Timur Tengah, melainkan mengikuti budaya Islam lokal. Kedua mengikuti undang undang yang berlaku di Demak mengacu pada kitab salokantoro di tulis Raden Patah di teruskan Trengono isi dari kitab tersebut mengenai kesetaraan tidak membedakan apapun agamanya semua masyarakat sama, ini yang di sebut benih benih Nasionalisme Modern ada sejak era Walisongo. Rekonstruksi dari kitab salokantoro ini ada 2 yaitu pertama memasukan nilai islam di bidang akidaha. Kedua membuat tafsir baru kepada teks sebelumnya tidak merubah melainkan mencocokan budaya sebelumya(Hindu-Budha) dan di gabungkan dengan pemahaman baru (Islam) sehinga ada kesinambungan tidak semua berlandasan Al-Qur’an dan Hadits. Karakter Islam Nusantara berbeda dengan Karakter Islam Timur Tengah. Perbedaan Karakter Islam Nusantara merupakan berbasis substansial value/nilai, sedangkan Islam Timur Tengah Imperium berbasis kepada agama formal.
Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa yang didirikan pada tahun 1478 M. Pada awal kekuasaannya, Kerajaan Demak telah dipimpin oleh Raden Patah lalu digantikan oleh Adipati Unus. Kemudian pada tahun 1521 M Sultan Trenggana resmi diangkat menjadi pemimpin Demak. Sultan Trenggana menjadi pemimpin Kerajaan Demak sejak 1521-1546 M. Ketika Sultan Trenggana menjadi pemimpin, Kerajaan Demak berada pada puncak kejayaannya. Ia berhasil memperluas administrasi wilayah Kerajaan Demak, memperluas wilayah perdagangan, menghidupkan kembali Masjid mampu mengislamkan hampir seluruh Pulau Jawa, dan mampu merebut daerah- daerah jajahan Portugis. Kepemimpinan Sultan Trenggana berdasarkan konsep kepemimpinan Jawa Hasta Brata.
Hasta Brata muncul ketika Rama Wijaya menasehati kepada Wibhisana yang menjadi penerus Raja Ngalengkadireja. Hasta Brata dapat dieja dengan beberapa ejaan, yaitu Hasta Brata dapat dibaca dengan beberapa ejaan, yaitu Hasta Brata, Hastha Brata, Asta Brangta, dan Asta Brongto.
Keberhasilan Sultan Trenggana membawa Kerajaan Demak ke masa puncak kejayaan. Jika dilihat dari para pemimpin sebelumnya yang tidak terlalu menonjol kemajuan yang telah dicapai, konsep kepemimpinan yang digunakan oleh Sultan Trenggana dalam mengislamkan hampir seluruh Pulau Jawa yang pada saat itu masyarakat pribumi masih terdoktrin dengan ajaran Hindu-Budha yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Kemudian ketertarikan peneliti mengukur Brata karena konsep kepemimpinan Sultan Trenggana dengan Hasta.
2.1.2 Sunan Bonang
Suluk sunan Bonang mengadopsi tradisi jawa. Mengatakan jiwa manusia terikat dari lingkungan maka lingkungan tidak sekedar hidup”meskipun selembar jari maka akan kobarkan sampai mati” maksud tersebut menjaga lingkungan agar tidak di ambil dari orang lain, wilayah adalah harga diri . Sunan kudus tidak memotong sapi karna menghormati agama lain agar terjadi rukun sesama manusia. Suluk kali jaga. Berbicara insan kamil martabah tujuh perilaku sikap mempertimbangkan suatu wilayah termasuk kepercayaan , tradisi, budaya menjadi bekal spirit keislamam nusantara akan berbeda dengan keislaman bangsa lain seperti kehalifahan bani umaiyah bani abasiyah. Melihat melalui tembang tembag di bangun bahasa arab di jawakan suku2 batok. Merupakan wujud nasional nusantara. Akhir2 Gus dur menamai strategi pribumisasi. Dapat disimpulkan bahwa dari peningalan tersebut merupakan Benih benih atau embrio nasionalisme walisongo pada abad 15 sebagi cikal bakal abad 17-20 di Nusantara.
Sunan Bonang Sunan Bonang merupakan anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Beliau lahir pada tahun 1465 M. Ibunya bernama Nyi Ageng Manila, yang merupakan puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, beliau pun memutuskan berdakwah mulai dari Kediri hingga ke berbagai pelosok Pulau Jawa. Di sana beliau mendirikan Masjid Sangkal Daha. Sunan Bonang adalah pencipta gending Darma. Sunan Bonang berusaha mengganti nama-nama hari nahas menurut kepercayaan Hindu dan nama-nama dewa Hindu dan nama-nama malaikat dan nabi-nabi menurut agama Islam.
2.1.3Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450 M. Ayahnya bernama Arya Wilatikta yang merupakan seorang Adipati Tuban keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Pada saat itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut agama Islam. Semasa kecilnya, Sunan Kalijaga bernama Said. Sama halnya dengan wali lainnya, beliau juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.
Sunan Kalijaga menjadi tokoh legendaris dalam kisah yang masyhur menajdi soko tatal dalam masjid Demak. Diceritakan bahwa semua Wali sembilan membuat sebuah tiang (soko guru) untuk pendirian masjid Demak. Sunan Kalijaga adalah pencipta wayang kulit dan pengarang buku-buku wayang mengandung cerita dramatis dan berjiawa Islam.
Penafsiran lain berpendapat bahwa Kalijaga berarti kemampuan Sunan Kalijaga dalam menjaga aliran atau kepercayaan yang hidup dimasyarakat. Beliau tidak antipati terhadap semua aliran atau kepercayaan yang tidak sesuai dengan Islam, tetapi dengan penuh kebijaksanaan aliran-aliran kepercayaan yang hidup dalam masyarakat tersebut dihadapi dengan penuh toleransi. Konon menurut cerita memang Sunan Kalijaga adalah satu-satunya Wali yang faham dan mendalami segala pergerakan dan aliran agama yang hidup dalam masyarakat.
Wayang adalah sebagai media dakwah yang senantiasa dipergunakan oleh Sunan Kalijaga dalam kesempatan dakwahnya di berbagai daerah, dan wayang pada saat itu merupakan media yang efektif, dapat menarik simpati rakyat terhadap agama. Peranannya dalam bidang politik pemerintahan sudah mulai sejak awal berdirinya Kasultanan Demak sampai akhir Kasultanan. Dalam rangka dakwah Islam maka fungsi Waliyul Amri adalah memberi nasihat tentang pelaksanaan pemerintahan agar senantiasa dijiwai roh Islam.
2.1.7 Sunan Kudus
Sunan Kudus atau Jaffar Shadiq merupakan seorang putra dari pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga ke Jawa. Di Kesultanan Demak, beliau pun diangkat menjadi panglima perang.
Sunan Kudus menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Beliau memiliki keahlian khusus dalam bidang agama, terutama dalam ilmu fikih, tauhid, hadits, tafsir serta logika. Karena itulah di antara walisongo hanya ia yang mendapat julukan wali al-‘ilm. yang dianggap telah dekat dengan Allah SWT, terus menerus beribadah kepada-Nya, serta memiliki kekeramatan dan kemampuan lain di luar kebiasaan manusia.
2.2 Bukti - Bukti wujud dari tafsir agama yang di lakukan walisongo yang cocok dengan Nilai Nasionalisme/Kebangsaan.
2.2.1 Kesultanan Demak
Bukti atau wujud dari Nilai Nasionalisme Kesultanan Demak mengacu pada hasil peradaban Demak yang sampai saat ini masih dapat dirasakan. 1. Sultan Demak, Senopati Jimbun pernah menyusun suatu himpunan undang-undang dan peraturan di bidang Namanya: Salokantara, sebagai kitab hukum, maka didalamnya antara lain menerangkan keagamaan yang pernah menjadi pelaksanaan hukum. tentang pemimpin Mereka disebut hakim. dharmahyaksa dan kertopapatti. 2. Gelar pengulu (kepala), juga sudah dipakai disana, yang sudah dipakai Imam di Masjid Demak. Hal in juga terkait dengan orang yang terpenting disana, yaitu nama Sunan Kalijaga. Kata Kali berasal dari bahasa Arab Qadli, walaupun dikaitkan dengan itu juga hal sebuah nama sungai kecil, Kalijaga di Cirebon. Ternyata istilah Qadli, pada masa- masa selanjutnya dipakai oleh imam- imam masjid. 3. Bertambahnya bangunan-bangunan militer di Demak dan ibukota lainnya di Jawa pada abad XVI. 4. Peranan penting Masjid Demak sebagai pusat peribadatan Kerajaan.
2.1.2 Sunan Bonang
Bukti atau wujud dari Nilai Nasionalisme Sunan Bonang Karya-karya Suluk Sunan Bonang berisikan beberapa aspek di dalam agama dan budaya Islam. Seperti ajaran tentang ketuhanan, perbuatan manusia itu terjadi karena takdir Tuhan, manunggaling kawula gusti, syariat, budi pekerti, tarekat, hakikat, dan marifat. Suluk Wujil merupakan karya sastra yang ditulis pada zaman peralihan agama Hindu ke agama Islam. Maka Suluk Wujil ini mencerminkan hal-hal penggambaran kehidupan budaya, intelektual dan keagamaan di Jawa Timur yang sedang berada pada masa transisi religiusitas dari kepercayaan Hindu beralih menuju kepercayaan Islam. Peralihan itu sendiri ditandai dengan runtuhnya satu kerajaan Hindu terbesar terakhir di pulau Jawa yakni Kerajaan Majapahit dan mulai besarnya kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa.
Dari segi bahasa, Suluk Wujil ini memperlihatkan gaya bahasa yang tidak biasa dan terkesan aneh karena menggunakan bahasa Jawa Madya yang pada saat itu tidak lazim digunakan dalam penulisan tembang. Dilihat segi puitika, Suluk Wujil menggunakan gaya tembang yang menyimpang dari patron kebiasaan penyair-penyair pada zaman Hindu yaitu menggunakan gaya tembang Aswalalita. Aswalalita adalah metrum Jawa Kuna yang dicipta berdasarkan puitika Sanskerta. Yaitu gaya tembang yang dipakai pada zaman Jawa kuno. Setelah wafatnya Sunan Bonang gaya tembang ini tidak lagi digunakan oleh para penulis tembang di Jawa.
Dilihat dari gaya bahasa dan gaya tembang tersebut terlihat semangat peralihan dalam Suluk Wujil. Gaya tembang aswalita ini, dapat ditemukan dalam bait ke-55 dalam Suluk Wujil, sebagai berikut:
I rika sang sumitra ri s(e)dheng Mahas t(e)kap ikang suwesma siwaya Taki-taki teng tutur-kwa huninganku Masku rari yan kaka katawengan Pilih alupa ng sepet rari baliknya Harja katuturnya sawaka tular Trena lata rupa jar kwa ri sedheng Katiga wara dibya nungsung (ing) udan"
Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, "Ketika adinda pergi dari rumah sendiri, beribadat(?), bertapa. Aku bersungguh-sungguh terhadap kata-kataku, ingatanku, pikiranku. Kalau kakanda (sebagai kelapa) tersembunyi, mungkin akan pingsanlah pohon kelapa(?), sebaliknya kesejahteraanlah yang diingatnya, (untuk) yang berbakti kemana-mana. Seperti rumput, tumbuh- tumbuhan, dan pohon. Sedangkan diriku ibarat musim kering yang sangat kering mengharapkan turunnya air hujan. Pengamat asing ada yang mengatakan, Suluk Wujil sebagai Ajaran Rahasia Sunan Bonang atau dalam bahasa Belanda: De Geheime Leer van Soenan Bonang. Maksudnya tidak semua orang boleh membaca buku Suluk Wujil. Sebab kemampuan pikiran seseorang tidak sama satu dan yang lain. Ilmu itu bertingkat-tingkat ketinggiannya. Begitu juga pola pikir dan tingkatan pikiran seseorang tidaklah sama dengan orang lainnya. Jika kemampuan seseorang masih rendah, memaksakan diri mempelajari ilmu yang terlalu tinggi, akibatnya bisa kurang baik. Dalam masyarakat Jawa ada kepercayaan, bila seseorang yang ilmunya masih rendah, kemudian mempelajari ilmu yang terlalu tinggi, maka orang itu bisa sakit jiwa atau gila.
Ajaran-ajaran Sunan Bonang yang termuat dalam Suluk Wujil berbentuk tembang Macapat. Tembang Macapat adalah puisi klasik Jawa, yang biasa dilagukan (dinyanyikan). Macapat terdiri dari banyak lagu, antara lain: Mijil, Maskumambang, Kinanti, Sinom, Dhandhanggula, Asmarandana, Gambuh, Durma, Pangkur, Megatruh dan Pocung. Di dalam Suluk Wujil, tembang macapat yang digunakan adalah tembang Dhandhanggula, tembang Mijil, dan gaya tembang Jawa kuno yaitu Aswalalita. Isinya berkisah tentang seorang yang bernama Wujil. Wujil semula adalah abdi kinasih di kerajaan Majapahit. Karena haus akan ilmu agama, ia berkelana meninggalkan kerajaan Majapahit kemudian berguru kepada Ratu Wahdat. Akan tetapi setelah sepuluh tahun ia berguru belum juga diberi ajaran ilmu rahasia seperti yang ia inginkan. Akhirnya, Wujil memberanikan diri meminta diberi ajaran ilmu rahasia. Namun Ratu Wahdat mengatakan, belum saatnya Wujil belajar ilmu rahasia. Ratu Wahdat menginginkan agar seseorang yang akan mempelajari ajaran rahasia harus mempunyai sifat jujur lahir batin, bersih jiwa dan raganya. Maka Ratu Wahdat berkata. : Kang adol warta atuku warti kumiskum kaya-kaya weruha Mangkeki andhe-andhene Awarna kadi kuntul Ana tapa sajroning warih Meneng tan kena obah Tingalipun terus Ambek sadu anon mangsa Lir hantelu putihe putih ing jawi Ing jro kaworan rakta'
Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: " Barangsiapa mengharapkan imbalan dalam mengajarkan tulisan-tulisan, ia hanya memuaskan dirinya sendiri. Seolah-olah ia tahu tentang segalanya dengan tepat. orang semacam itu diibaratkan seperti seekor burung bangau yang bermenung di tepi danau. Si burung berdiam diri tidak bergerak, pandangannya angker, berpura-pura alim terhadap mangsanya, termasuk ikan-ikan. Ia sama seperti sebutir telur yang tampak putih (suci) di luar, tetapi di dalamnya bercampur kuning. 18 Namun pada akhirnya, saatnya sampai juga Ratu Wahdat memanggil Wujil, untuk menerima ajaran ilmu rahasia. Mengenai kebenaran ilmu itu, Ratu Wahdat bersumpah, kalau karena ajarannya seseorang harus masuk neraka, Ratu Wahdat bersedia masuk neraka untuk menggantikannya. Hal itu sebagai perwujudan tanggungjawabnya sebagai seorang guru. Ajaran rahasia pertama yang diberikan Ratu Wahdat kepada Wujil adalah hidup di dunia haruslah berhati-hati, jangan lengah dan tidak boleh bertindak gegabah. Adapun ajaran rahasia yang kedua, manusia harus menyadari dirinya hanyalah manusia biasa. Manusia itu hanya ciptaan Tuhan, diadakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Manusia itu tidak akan ada bila tidak diadakan oleh Penciptanya. "Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, bahwa engkau bukanlah kesejatian, dan kesejatian bukanlah engkau" ujar Ratu Wahdat. Kepada Wujil dijelaskan oleh Ratu Wahdat dengan perumpamaan, barang siapa yang telah mengenal dirinya sendiri, seolah-olah dia telah mengenal Tuhan-Nya. Yang ketiga, diajarkan tentang arti shalat yang sesungguhnya. Menurut Ratu Wahdat, shalat yang sebenarnya ialah jika orang yang sedang shalat tahu dan mengerti kepada siapa ia menyembah. Jika orang yang sedang shalat menyembah tanpa mengetahui siapa yang disembah, shalat itu menjadi tidak ada artinya.
2.2.3 Suman Kalijaga
Sunan Kalijaga ternyata mampu menciptakan kesenian dengan berbagai bentuknya.Maksud utama kesenian itu diciptakan adalah sebagai alat dalam bertabligh mengelilingi berbagai daerah, ternyata malah mempunyai nilai sejarah yang berharga bagi bangsa Indonesia. Kesenian yang diciptakan Sunan Kalijaga tersebut berupa "Wayang" lengkap dengan gamelannya. Bahkan Sunan Kalijaga pernah memesan kepada orang yang ahli membuat gamelan, yaitu pesan supaya dibuatkan "Serancak gamelan" yang kemudian diberi nama gamelan "Kyai Sekati". Dan masih banyak yang diciptakan Sunan Kalijaga dibidang seni termasuk seni lukis dan lain sebagainya. Dari sinilah Sunan Kalijaga kemudian terkenal dikalangan masyarkat Jawa sampai sekarang sebagai seorang ahli seni. Di lain pihak Sunan Kalijagajuga menciptakan karangan cerita-cerita pewayangan yang kemudian dikumpulkan dalam kitab-kitab cerita wayang dan sampai sekarang masih ada. Cerita-cerita itu masih berbentuk ceriat menurut kepercayaan jawa dengan corak kebudayaannya yang ada, tetapi sudah dimasuki unsur-unsur ajaran Islam sebanyak mungkin. Cara itu dilakukan oleh Sunan Kalijaga.Karena adanya pertimbangan, bahwa rakyat pada saat itu masih tebal kepercayaannya Hindu Budhanya.
Sebab-sebab itulah yang mendorong Sunan Kalijaga harus memutar otak dan membanting tulang sebagai salah seorang mubaligh untuk mengatur siasat dan menempuh jalan yang tepat, yakni mengawinkan ajaran Islam dengan kebiasaan dan kebudayaanmereka sebagaimana yang ditempuh pula para Wali yang lainnya. Satu hal yang patut dicatat, menurt komentar rakyat, bahwa Sunan Kalijaga disamping sebagai mubaligh keliling kesana-kemari menyampaikan dakwahnya, ternyata beliau masih sempat pula mengarang cerita-cerita wayang terutama yang .
2.2.4 Sunan Kudus
Dalam melaksanakan dakwah dengan pendekatan kultural, Sunan Kudus menciptakan berbagai cerita keagamaan. Yang paling terkenal adalah Gending Maskumambang dan Mijil. Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M dan dimakamkan di Kudus. Di pintu makan Kanjeng Sunan Kudus terukir asmaul husna berangka tahunn 1296 H atau `878 M.
Sejarah walisongo berkaitan dengan penyebaran Dakwah Islamiyah di Tanah Jawa. Agama Islam kemudian dianut oleh sebagian besar masyarakat Jawa, mulai dari perkotaan, pedesaan, dan pegunungan. Islam benar benar menjadi agama yang mengakar.
Filosofis maksudnya sembilan orang yang telah mampu mencapai tingkat wali, suatu dera Para wali ini mendirikan masjid, baik sebagai tempat ibadah maupun sebagai tempat mengajarkan agama. Konon, mereka mengajarkan agama di serambi masjid yang kelak dijadikan sebagai lembaga pendidikan tertua di Jawa yang sifatnya lebih demokratis.
Adapun peninggalan sejarah Sunan Kudus masih dilestarikan hingga saat ini, baik yang berupa fisik dan non- fisik. Peninggalan yang berupa fisik ialah Masjid Al-Aqshaº, Menara Kudus dan beberapa masjid yang dipercaya oleh masyarakat sebagai peninggalan Sunan Kudus." Sedangkan, peninggalan yang berupa non-fisik yaitu penggantian daging sapi dengan daging kerbau. Pelestarian budaya lokal oleh masyarakat sebagai wujud penghormatan terhadap Sunan Kudus sebagai sosok yang toleran terhadap masyarakat non-muslim. Di samping itu masyarakat Jawa memiliki pemikiran yang masih sinkretis, masyarakat Jawa mempercayai bahwa seorang wali memiliki karomah dari Allah sehingga setiap perkataan wali dianggap sebagai fatwa yang harus diikuti.14 Pada konteks modern, sikap masyarakat yang teguh untuk tidak menyembelih sapi di dekatkan dengan istilah “Pluralime Agama” dan Toleransi. Toleransi konteks mayoritas terhadap minoritas di gambarkan dalam umat Muslim terhadap umat Hindu.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,Taufik, Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara , LP3ES, Jakarta, 1989
Muhammad Habis Mustopo, 2001, Kebudayaan Islam Di Jawa Timur ; Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan, Jendela Grafika, Yogyakarta, h. 3
Kuntowijoyo. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1991.
Wahid, Abdurrahman. Islamku Islam Anda Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute 2006.
Zada, Khamami dkk. “Islam Pribumi: Mencari Wajah Islam Indonesia”, dalam Jurnal Tashwirul Afkar, No. 14. Jakarta: Lakpesdam, 2003.
Abdullah bin Nuh, Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Zaman Keemasan B anten, Majlis Ta’lim al-Ihya, Ciamis, Bogor, 1978.
Amin, M. Mansyur, Metode Dakwah Islam dan Beberapa Keputusan Pemerint ah tentang Aktivitas Keagamaan , Sumbangsih, Yogyakarta, 1980.
Arnold, Thomas W,Sejarah Dakwwah Islam, terjemah, the pracingof Islam, Penerbit Wijaya,Jakarta, 1981
Azra, Azyurmardi, Islam Nusantara, Jaringan Global dan Lokal, Mizan, Bandung, 2002
Geerzt, Clifford, The Javanese Kyahi, The Changing Role of Cultural-B roaker, Comparative Studies and History, 1959-1960 ,
The Hague, 1960 Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren, Studi Pandangan Hidup Kiai ,
Hamka, Sejarah Umat Islam , IV, Bulan Bintang, Jakarta, 1981
Haryanto, Joko Tri, IAIN Walisongo Mengeja Tradisi Merajut Masa Depan, Pustakindo Pratama, Semarang, 2003 Hasyim, Umar, Sunan Giri, Menara Kudus, 1979
Agus Sunyoto, Wali Sanga, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan (Jakarta: Transhop Printing, 2011), 169.
No comments:
Post a Comment